www.jurnalkota.co.id
Oleh: Surti Nurpita
Pengajar di Sleman, Yogyakarta
Fenomena fatherless atau absennya peran ayah dalam kehidupan anak kembali menjadi sorotan. Dalam peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji menyampaikan bahwa berbagai persoalan yang melibatkan remaja, seperti tawuran, perundungan (bullying), hingga penyalahgunaan narkoba, sering kali berakar dari lemahnya komunikasi di dalam keluarga, termasuk minimnya kehadiran sosok ayah secara psikologis.
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga memperumit keadaan. Peran ayah dalam membimbing anak perlahan tergeser oleh gawai dan lingkungan digital yang tidak selalu dapat diawasi orang tua. Akibatnya, anak lebih banyak memperoleh nilai, informasi, bahkan teladan dari media sosial dan lingkungan pergaulan dibandingkan dari keluarganya sendiri.
Namun, apakah fenomena fatherless semata-mata disebabkan oleh kelalaian seorang ayah? Persoalan ini sesungguhnya jauh lebih kompleks.
Peran Ayah dan Krisis Identitas Remaja
Krisis identitas pada remaja dipengaruhi oleh banyak faktor. Fatherless merupakan salah satunya, tetapi bukan satu-satunya penyebab.
Dalam keluarga, ayah memiliki posisi strategis sebagai pemimpin atau qawwam. Kehadirannya bukan hanya sebagai pencari nafkah, melainkan juga sebagai pembimbing, pelindung, sekaligus teladan bagi anak-anaknya.
Sementara itu, ibu dikenal sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak. Peran tersebut akan berjalan lebih optimal apabila didukung oleh kepemimpinan seorang ayah. Kehadiran kedua orang tua yang saling melengkapi menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter, kepribadian, dan ketahanan mental anak.
Ketika sosok ayah tidak hadir, baik secara fisik maupun emosional, anak berpotensi kehilangan figur yang menjadi tempat bertanya, berdiskusi, dan mencari arah. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses pembentukan identitas anak.
Dilema Para Ayah
Meski demikian, tidak semua ayah yang minim hadir dalam pengasuhan dapat langsung disalahkan. Banyak di antara mereka justru sedang menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.
Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya pendidikan, layanan kesehatan, hingga berbagai kebutuhan hidup lainnya membuat banyak kepala keluarga harus bekerja lebih keras demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Tidak sedikit ayah yang harus bekerja sejak pagi hingga malam. Bahkan, ada yang memilih merantau ke luar kota atau luar pulau agar memperoleh penghasilan yang lebih layak. Konsekuensinya, waktu bersama keluarga menjadi sangat terbatas.
Dalam situasi seperti ini, muncul dilema yang tidak mudah diselesaikan. Di satu sisi, ayah dituntut menjadi pencari nafkah utama. Di sisi lain, mereka juga diharapkan hadir secara utuh dalam proses pengasuhan anak.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan fatherless tidak hanya berkaitan dengan pilihan individu, tetapi juga dipengaruhi oleh sistem sosial dan ekonomi yang membentuk kehidupan keluarga.
Tantangan Sistem Ekonomi
Menurut penulis, sistem ekonomi yang berlaku saat ini belum sepenuhnya memberikan ruang bagi seorang ayah untuk menjalankan kedua perannya secara seimbang.
Tekanan ekonomi membuat sebagian besar perhatian kepala keluarga terserap untuk mencari penghasilan. Akibatnya, pendidikan dan pengasuhan anak sering kali diserahkan sepenuhnya kepada sekolah, pondok pesantren, atau bahkan media digital.
Padahal, pendidikan formal tidak dapat menggantikan fungsi keluarga sebagai lingkungan pertama yang membentuk kepribadian anak.
Karena itu, penyelesaian persoalan fatherless tidak cukup hanya dengan mengajak ayah agar lebih dekat dengan anak. Diperlukan pula kebijakan yang mampu menciptakan kondisi sosial dan ekonomi yang mendukung kehidupan keluarga.
Peran Negara
Dalam pandangan penulis, negara memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kebijakan yang memungkinkan ayah tetap menjalankan fungsi pengasuhan tanpa mengabaikan kewajiban mencari nafkah.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memperluas pemerataan lapangan kerja sehingga masyarakat tidak harus meninggalkan keluarga dalam waktu lama demi memperoleh pekerjaan.
Selain itu, negara juga perlu memastikan kebutuhan dasar masyarakat, seperti pangan, pendidikan, kesehatan, dan tempat tinggal, dapat diakses dengan biaya yang terjangkau. Dengan demikian, beban ekonomi keluarga dapat berkurang sehingga orang tua memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi anak.
Penulis berpandangan bahwa kondisi tersebut sulit diwujudkan melalui sistem ekonomi kapitalis. Sebaliknya, menurutnya, Islam menawarkan konsep pengelolaan ekonomi yang menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama dalam menjamin kebutuhan pokok masyarakat.
Dalam konsep tersebut, negara mengelola sumber daya yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan rakyat, membuka lapangan pekerjaan secara luas, serta memberikan kesempatan kepada masyarakat mengelola lahan melalui mekanisme tertentu sesuai ketentuan syariat.
Dengan terpenuhinya kebutuhan ekonomi keluarga, seorang ayah dinilai akan lebih leluasa menjalankan perannya sebagai pencari nafkah sekaligus pemimpin dalam rumah tangga.
Penutup
Fenomena fatherless merupakan persoalan yang tidak bisa dipandang secara sederhana. Kehadiran ayah memang menjadi faktor penting dalam tumbuh kembang anak. Namun, tuntutan ekonomi, perubahan sosial, dan perkembangan teknologi turut memengaruhi kemampuan seorang ayah menjalankan perannya.
Karena itu, penyelesaiannya memerlukan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga negara. Bagi penulis, sistem Islam menawarkan mekanisme yang dinilai mampu menciptakan kondisi tersebut, sehingga ayah dapat menjalankan tugas sebagai pencari nafkah sekaligus qawwam dalam keluarga.
Dengan kehadiran ayah yang utuh, diharapkan anak tumbuh menjadi pribadi yang memiliki karakter kuat, jauh dari krisis identitas, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan lingkungannya.**













