Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Ikatan Warga Kuantan Singingi (Iwakusi) Tanjungpinang-Bintan ikut berpartisipasi aktif dalam Pawai Budaya memperingati Hari Jadi ke-24 Kota Otonom Tanjungpinang, yang digelar di Kawasan Dataran Gurindam 12, Tepi Laut, Sabtu (11/10/2025). Rute pawai dimulai dari Jalan Merdeka dan berakhir di kawasan Tugu Sirih.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Tanjungpinang itu diikuti sekitar 20 sanggar dan paguyuban dari berbagai daerah. Tahun ini, Iwakusi Tanjungpinang-Bintan yang diketuai Huzaifa Dadang AG mengusung tema “Rampai Budaya Kuantan Singingi Memperkaya Khasanah Kota Otonom Tanjungpinang.”

Tampilkan Pacu Jalur dan Tradisi Sasampek
Ketua Iwakusi Tanjungpinang-Bintan, Huzaifa Dadang AG, mengatakan pihaknya menurunkan sekitar 100 peserta yang terbagi dalam beberapa kelompok. Mereka menampilkan berbagai unsur budaya khas Kuantan Singingi, mulai dari busana pengantin adat, barisan tokoh masyarakat, pembawa perahu jalur dan umbul-umbul, hingga grup musik calempong dan randai.
“Alhamdulillah, tahun ini Iwakusi bisa berpartisipasi aktif dalam pawai budaya memperingati HUT ke-24 Kota Tanjungpinang,” ujar Huzaifa Dadang.
Puncak penampilan Iwakusi terjadi saat rombongan melintasi panggung kehormatan yang dihadiri Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah, Wakil Wali Kota Raja Ariza, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Dalam waktu dua menit yang diberikan panitia, Iwakusi menampilkan atraksi pacu jalur tradisional yang dikolaborasikan dengan musik randai dan calempong.
Atraksi tersebut ditutup dengan penyerahan kue tradisional oleh ibu-ibu yang menjunjung bintang dan sasampek, sebuah tradisi masyarakat Kuansing yang melambangkan prosesi lamaran.
“Junjung bintang dan sasampek merupakan simbol kebahagiaan dan rasa syukur dalam adat Kuantan Singingi,” jelas Huzaifa Dadang, yang juga mantan Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang.
Wujud Kebersamaan dan Syukur
Usai melintasi panggung utama, sasampek berupa hiasan makanan ringan yang dibawa sepuluh ibu-ibu itu diperebutkan warga sebagai simbol berbagi rezeki dan kebahagiaan.
Dengan motto organisasi “Badunsanak kito di rantau, basatu kito di kampuang,” Huzaifa Dadang berharap keberadaan Iwakusi dapat mempererat silaturahmi warga Kuantan Singingi di perantauan.
“Semoga warga Kuansing di Tanjungpinang dan Bintan semakin kompak, terus berkontribusi dalam pembangunan, serta ikut memberi masukan bagi kemajuan daerah asal,” ujar Huzaifa Dadang.
Pawai Budaya Jadi Ajang Kebanggaan Warga
Kegiatan Pawai Budaya yang diselaraskan dengan parade mobil hias itu menjadi ajang kebanggaan bagi masyarakat Tanjungpinang untuk menampilkan keberagaman budaya daerah.
“Pawai Budaya bukan sekadar tontonan, tetapi juga wujud rasa syukur dan kebersamaan warga dalam membangun daerah yang sejahtera,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang, Teguh Susanto.














