Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Balai Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Riau menggelar Kemah Budaya Pulau Penyengat 2026 di Kompleks Balai Adat Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan selama tiga hari dua malam tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal, memahami, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sejarah serta warisan budaya Melayu.
Pembukaan Kemah Budaya dihadiri Pelaksana Tugas (Plt) Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Tanjungpinang Yoni Fadri, yang mewakili Wali Kota Tanjungpinang.
Yoni mengapresiasi Balai Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Riau yang memilih Pulau Penyengat sebagai lokasi pelaksanaan Kemah Budaya 2026.
Menurut dia, kegiatan tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Kota Tanjungpinang memperkuat identitas daerah sebagai kota budaya sekaligus destinasi wisata sejarah.
“Pemko Tanjungpinang sangat berterima kasih kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Riau yang telah melaksanakan Kemah Budaya di Pulau Penyengat. Pulau Penyengat adalah kebanggaan kita semua, bahkan menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Indonesia,” ujar Yoni.
Ia menilai keterlibatan pelajar dalam kegiatan tersebut menjadi langkah penting untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya daerah sejak dini.
Para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan selama mengikuti kegiatan, tetapi juga mampu menjadi generasi penerus yang ikut menjaga dan memperkenalkan kebudayaan Melayu kepada lingkungan sekitarnya.
“Harapan kita, anak-anak muda yang mengikuti Kemah Budaya ini dapat menjadi penjaga budaya Melayu pada masa depan. Jadilah pelopor dan teruskan ilmu serta pengalaman yang diperoleh kepada teman-teman lainnya,” kata Yoni.
Jaga peninggalan sejarah Penyengat
Yoni mengatakan, Pulau Penyengat menyimpan kekayaan sejarah dan kebudayaan Melayu yang harus dipelihara bersama.
Warisan tersebut tidak hanya berbentuk bangunan bersejarah, tetapi juga karya sastra, manuskrip kuno, bahasa, kesenian, adat, dan tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.
Beberapa di antaranya adalah Gurindam Dua Belas, Masjid Raya Sultan Riau, serta berbagai manuskrip dan tradisi Melayu yang telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Tanjungpinang dan Kepulauan Riau.
“Tentu kegiatan ini sangat berdampak positif bagi generasi penerus untuk menjaga dan mempertahankan adat Melayu,” ujar Yoni.
Menurut dia, generasi muda kelak menjadi pihak yang akan melanjutkan upaya pelestarian Gurindam Dua Belas, Masjid Raya Sultan Riau, dan berbagai manuskrip bersejarah.
“Jangan sampai generasi muda lebih mengenal budaya luar daripada budayanya sendiri,” tegasnya.
Yoni berharap para peserta dapat memanfaatkan seluruh rangkaian kegiatan untuk menggali sejarah dan kebudayaan Pulau Penyengat secara lebih mendalam.
Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh juga diharapkan dapat disebarluaskan kepada keluarga, teman, sekolah, dan lingkungan masing-masing.
Kembali kepada akar budaya
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kepulauan Riau Jumhari mengatakan, Pulau Penyengat dipilih sebagai lokasi Kemah Budaya karena memiliki nilai sejarah dan kebudayaan yang kuat.
Pulau tersebut merupakan salah satu kawasan penting dalam perkembangan peradaban Melayu. Berbagai peninggalan sejarah dan tradisi budaya juga masih hidup dan dipelihara masyarakat hingga sekarang.
“Kemah Budaya ini bukan sekadar kemah biasa. Ini merupakan upaya untuk mengembalikan anak-anak muda kepada akar budayanya sekaligus menjadi ruang tumbuhnya berbagai tradisi yang berkembang di lingkungan Kesultanan Melayu,” kata Jumhari.
Tradisi yang diperkenalkan kepada peserta antara lain Gurindam Dua Belas, pantun, boria, dan zapin.
Jumhari menjelaskan, Kemah Budaya juga menjadi bagian dari upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan. Salah satu fokusnya adalah memperkenalkan warisan budaya takbenda kepada generasi muda agar tetap dipahami, dipraktikkan, dan diwariskan.
Selama tiga hari dua malam, para peserta dari kalangan pelajar mengikuti berbagai kegiatan edukatif dan praktik kebudayaan.
Kegiatan tersebut meliputi napak tilas sejarah Pulau Penyengat, lokakarya manuskrip kuno dan aksara Jawi, lokakarya Gurindam Dua Belas, pelatihan permainan tradisional Melayu, serta aksi membersihkan situs cagar budaya.
Selain mendapatkan pengetahuan di dalam forum, peserta diajak mengunjungi dan mengamati secara langsung sejumlah lokasi bersejarah. Pendekatan tersebut diharapkan membuat pembelajaran mengenai sejarah dan budaya menjadi lebih menarik serta mudah dipahami.
Para peserta juga akan mengikuti malam apresiasi budaya yang menghadirkan penyanyi Melayu asal Riau, Al Hafzh.
Melalui kegiatan tersebut, peserta tidak hanya mempelajari sejarah melalui materi yang diberikan para narasumber. Mereka juga diajak merasakan secara langsung nilai-nilai adat, bahasa, sastra, seni, dan warisan manuskrip Melayu yang tumbuh di Pulau Penyengat.
Kemah Budaya Pulau Penyengat 2026 diharapkan memperkuat kesadaran generasi muda bahwa pelestarian kebudayaan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga kebudayaan.
Keterlibatan masyarakat, sekolah, komunitas, dan generasi muda dibutuhkan untuk memastikan warisan budaya Melayu tetap hidup, berkembang, dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.














