www.jurnalkota.co.id
Oleh: Sri Mestika
Aktivis Dakwah
Pagi itu, upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) kembali digelar dengan khidmat. Seragam rapi, barisan tertib, dan pidato penuh harapan menjadi pemandangan yang tak pernah absen setiap 2 Mei. Namun, di balik suasana seremonial tersebut, tersimpan realitas yang belum banyak berubah kesejahteraan guru yang masih jauh dari kata ideal.
Pada Hardiknas 2026, angin segar sempat berembus dari Sumatera Utara. Pemerintah daerah menyampaikan rencana kenaikan gaji bagi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) sekitar Rp2 juta, serta peningkatan honor guru tidak tetap (GTT) sekitar Rp90.000 per jam. Kebijakan ini disampaikan dalam Gebyar Expo Pendidikan di Lapangan Astaka Dispora Sumut, Deli Serdang.
Langkah tersebut tentu layak diapresiasi. Setidaknya, ada pengakuan bahwa kesejahteraan guru perlu diperbaiki. Namun, pertanyaan mendasarnya: apakah kebijakan ini benar-benar menyentuh persoalan utama yang dihadapi para guru, khususnya honorer?
Di banyak daerah, persoalan klasik masih berulang. Gaji guru honorer kerap terlambat dibayarkan, bahkan harus dirapel hingga berbulan-bulan. Dalam kondisi seperti ini, profesi guru tidak lagi sekadar panggilan jiwa, tetapi menjadi perjuangan bertahan hidup.
Tak sedikit guru yang terpaksa mencari penghasilan tambahan. Ada yang menjadi pengemudi ojek online, berdagang kecil-kecilan, hingga mengambil pekerjaan serabutan lainnya. Waktu dan energi yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan materi ajar, justru terkuras untuk memenuhi kebutuhan dasar.
Realitas ini menimbulkan ironi. Di satu sisi, guru dituntut untuk mencetak generasi unggul, berkarakter, dan berdaya saing. Namun di sisi lain, mereka sendiri belum mendapatkan jaminan kesejahteraan yang memadai.
Padahal, kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru. Ketika kesejahteraan mereka tidak terpenuhi, sulit mengharapkan proses pembelajaran berjalan optimal. Guru yang dibebani persoalan ekonomi cenderung kehilangan fokus, bahkan motivasi.
Lebih jauh lagi, kondisi ini berpotensi memengaruhi arah pembentukan karakter generasi muda. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan juga pembentukan nilai, moral, dan kepribadian. Jika sistemnya rapuh, maka hasilnya pun tidak akan maksimal.
Hardiknas seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni tahunan. Kenaikan gaji, meski penting, tidak cukup jika tidak diikuti dengan pembenahan sistem yang menyeluruh. Pemerataan kesejahteraan, kepastian pembayaran, serta perlindungan profesi guru harus menjadi prioritas utama.
Selain itu, disparitas antar daerah juga perlu menjadi perhatian. Tidak semua guru menikmati kebijakan yang sama. Ada wilayah yang mampu meningkatkan kesejahteraan guru, namun tidak sedikit pula yang masih tertinggal.
Dalam perspektif nilai-nilai keagamaan, guru memiliki kedudukan yang sangat mulia. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing yang membentuk akhlak dan arah kehidupan generasi penerus. Oleh karena itu, memastikan kesejahteraan guru bukan hanya tanggung jawab administratif, melainkan juga bentuk penghormatan terhadap ilmu dan peradaban.
Negara memiliki peran sentral dalam menjamin hal tersebut. Sistem pendidikan yang kuat harus ditopang oleh kebijakan yang berpihak pada guru. Gaji yang layak, dibayarkan tepat waktu, serta dukungan fasilitas yang memadai adalah prasyarat dasar yang tidak bisa ditawar.
Namun, tanggung jawab ini tidak berhenti pada negara. Masyarakat juga memiliki peran penting dalam menghargai profesi guru, baik secara moral maupun sosial. Pendidikan adalah fondasi peradaban, dan guru adalah pilar utamanya.
Pada akhirnya, jika kita ingin melahirkan generasi yang unggul, berintegritas, dan berakhlak, maka kesejahteraan guru harus ditempatkan sebagai prioritas. Tanpa itu, setiap peringatan Hardiknas hanya akan menjadi rutinitas tahunan penuh harapan, tetapi minim perubahan nyata.
Hardiknas seharusnya tidak hanya menjadi panggung pidato, melainkan titik tolak perubahan. Karena masa depan pendidikan, pada akhirnya, ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan para guru hari ini.**









