www.jurnalkota.co.id
Oleh: Fatmawati M. Taher
Mahasiswi, Yogyakarta
“Nikah dulu atau mapan dulu?” Pertanyaan ini kian akrab di telinga generasi muda. Bagi sebagian orang, kalimat tersebut bahkan menjadi semacam mantra untuk menenangkan diri ketika memilih menunda pernikahan. Keraguan itu bukan tanpa alasan. Lonjakan harga kebutuhan pokok, mahalnya biaya hunian, serta ketatnya persaingan kerja membuat banyak anak muda merasa belum siap secara finansial untuk membangun rumah tangga.
Kondisi sosial turut memperkuat kecemasan tersebut. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat faktor ekonomi sebagai salah satu penyebab utama perceraian. Di Jawa Barat, misalnya, sebanyak 33.264 pasangan tercatat bercerai akibat persoalan ekonomi. Maraknya pemberitaan mengenai kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dipicu tekanan finansial juga menambah ketakutan generasi muda. Kombinasi faktor ekonomi dan sosial ini membuat stabilitas finansial dipersepsikan sebagai prasyarat mutlak sebelum menikah.
Fenomena tersebut melahirkan ungkapan populer di kalangan anak muda, seperti “marriage is scary” atau “pernikahan itu menakutkan”. Ketakutan ini tidak jarang mendorong sebagian anak muda memilih hidup bersama tanpa ikatan pernikahan (live together). Relasi semacam ini dianggap lebih fleksibel karena dapat diakhiri sewaktu-waktu ketika muncul kebosanan, ketidakcocokan, atau konflik yang dirasa sulit dihadapi.
Kapitalisme dan Ketakutan akan Kemiskinan
Dalam situasi saat ini, tidak sedikit anak muda yang menjadi tulang punggung keluarga. Peran tersebut tidak hanya dipikul laki-laki, tetapi juga perempuan. Bahkan, mereka yang telah bekerja kerap masih mencari pekerjaan tambahan dengan alasan penghasilan yang belum mencukupi kebutuhan hidup. Tingginya biaya sandang, pangan, dan papan, ditambah terbatasnya lapangan kerja yang layak, membuat tekanan ekonomi semakin berat.
Sistem kapitalisme yang berkembang turut menumbuhkan ketakutan akan kemiskinan. Generasi muda terdorong untuk terus berlomba mengejar kestabilan materi, seolah nilai diri seseorang semata ditentukan oleh pencapaian ekonomi. Dalam proses ini, makna hidup, relasi keluarga, dan dimensi spiritual kerap terpinggirkan. Padahal, dalam keyakinan keagamaan, rezeki setiap manusia telah ditetapkan oleh Tuhan dengan penuh hikmah.
Negara yang Kurang Hadir
Ketakutan ekonomi generasi muda juga tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Di tengah tingginya angka pengangguran, janji penciptaan lapangan kerja kerap terdengar indah, tetapi belum sepenuhnya terwujud. Indonesia bahkan tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat pengangguran tertinggi di kawasan ASEAN.
Fenomena “kabur saja dulu” yang ramai di media sosial mencerminkan kegelisahan anak muda terhadap masa depan ekonomi mereka. Alih-alih dipahami sebagai sinyal peringatan, keresahan ini kerap dianggap sepele. Padahal, fenomena tersebut merupakan bentuk kritik sosial terhadap minimnya jaminan kesejahteraan dan kesempatan kerja yang adil.
Budaya Materialisme dan Hedonisme
Selain faktor struktural, budaya materialisme dan hedonisme turut memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap pernikahan. Banyak anak muda merasa harus “menikmati hidup” terlebih dahulu sebelum menikah: bebas membeli barang yang diinginkan, mengikuti tren, dan menjaga gaya hidup agar tetap dianggap relevan di lingkaran pergaulan.
Pola pikir ini melahirkan kekhawatiran baru: apakah setelah menikah kebebasan tersebut masih bisa dinikmati? Kekhawatiran inilah yang semakin menguatkan anggapan bahwa pernikahan identik dengan keterbatasan dan beban.
Mencari Jalan Keluar
Dalam ajaran Islam, pernikahan dipandang sebagai ibadah dan bagian dari penjagaan keturunan. Namun, dalam realitas hari ini, pernikahan kerap dipersepsikan sebagai beban ekonomi. Karena itu, solusi atas ketakutan menikah tidak bisa hanya dibebankan pada individu.
Negara memiliki tanggung jawab memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat secara adil dan merata. Pengelolaan sumber daya alam yang sepenuhnya berpihak pada kepentingan publik dapat menekan biaya hidup dan mengurangi tekanan ekonomi generasi muda. Di saat yang sama, pendidikan berbasis nilai dan akidah menjadi fondasi penting untuk membentuk karakter generasi yang tidak terjebak dalam arus materialisme dan hedonisme.
Dengan dukungan sistem keluarga yang kuat serta pemahaman bahwa pernikahan adalah ibadah, generasi muda dapat memandang pernikahan secara lebih positif. Pernikahan tidak lagi dilihat sebagai beban ekonomi semata, melainkan sebagai perjalanan hidup yang bernilai, bermakna, dan penuh keberkahan. Pendekatan menyeluruh inilah yang diperlukan untuk mengurai ketakutan menikah di tengah dominasi sistem kapitalisme saat ini.**














