Lebak, Jurnalkota.co.id
Kerajinan krey berbahan pelapah kelapa sawit menjadi sumber penghidupan utama masyarakat di Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, Banten. Produk anyaman sederhana ini tidak hanya menopang ekonomi warga, tetapi juga mengangkat kesejahteraan mereka dari jurang kemiskinan.
Mul (55), seorang perajin krey asal Kampung Cihiyang, mengingat betul kondisi desanya 15 tahun lalu. Rumah warga masih berdinding bilik bambu, beralaskan tanah, dan beratap rumbia. Kini, banyak rumah sudah semi permanen dan anak-anak desa bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
“Dulu warga di sini miskin. Sekarang, berkat krey pelapah sawit, kehidupan jauh lebih baik,” ujar Mul, Rabu (1/10/2025).
300 Keluarga Terlibat
Sejak berkembang sekitar tahun 2010, usaha kerajinan ini melibatkan sekitar 300 kepala keluarga. Krey biasanya dipasang di depan rumah untuk melindungi dari percikan hujan dan terik matahari.
Bahan baku mudah diperoleh dari limbah perkebunan sawit milik PTPN VIII Cisalak Baru. Setiap hari, pelapah sawit ditebang dan dimanfaatkan warga untuk diolah menjadi krey dan sapu lidi.
Dalam sehari, seorang perajin mampu menghasilkan rata-rata lima lembar krey. Harga jual di tingkat pengepul mencapai Rp30 ribu per lembar, sehingga mereka bisa meraup Rp150 ribu per hari atau sekitar Rp4,5 juta per bulan.
Pasar hingga Jabodetabek
Timan (45), salah satu pengepul, mengaku sudah 15 tahun menekuni usaha ini. Ia menampung hasil produksi dari perajin di Rangkasbitung Timur, Sangiang Tanjung, Cihelang, dan Cisalak.
“Setiap hari kami bisa kirim hingga 300 lembar krey ke Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor, dan Serang. Harganya Rp40 ribu per lembar di tingkat pedagang pengecer,” kata Timan.
Kerajinan krey pelapah sawit kini menjadi bukti nyata bahwa pemanfaatan limbah perkebunan bisa membuka lapangan kerja sekaligus mengangkat perekonomian masyarakat pedesaan.
Penulis: Noma
Editor: Antoni








