Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan terus didorong melalui pendekatan yang lebih strategis dan berbasis data. Hal ini terlihat dalam seminar bertajuk “Penguatan Kapasitas Advokasi Generasi Muda dalam Isu Lingkungan Hidup di Era Modern” yang digelar Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pecinta Alam (Mapala) Hang Tuah Raja Haji.
Kegiatan tersebut berlangsung di Mini Auditorium Kampus STISIPOL Raja Haji, Jalan Raja Haji Fisabilillah, Kelurahan Jang, Kecamatan Bukit Bestari, Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Selasa (28/4/2026).
Seminar ini diikuti puluhan peserta dari kalangan mahasiswa dan pelajar sekolah menengah. Mereka tampak antusias mengikuti setiap sesi yang dirancang sebagai ruang edukasi sekaligus penguatan peran generasi muda dalam menyuarakan isu-isu lingkungan hidup.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mendorong keterlibatan aktif pemuda dalam menjaga kelestarian alam, tidak hanya melalui aksi lapangan, tetapi juga melalui pendekatan advokasi yang lebih terstruktur dan berdampak luas.
Pentingnya Advokasi Berbasis Data dan Digital
Pemateri utama dalam seminar tersebut, Novi Asti Lalasati, menekankan bahwa pola advokasi lingkungan saat ini mengalami pergeseran signifikan. Menurut dia, pendekatan konvensional saja tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan zaman.
“Advokasi lingkungan di era modern tidak hanya sebatas aksi di lapangan. Generasi muda perlu memanfaatkan data dan teknologi informasi untuk memperkuat pesan yang disampaikan,” ujar Novi.
Ia menjelaskan, kemampuan literasi digital yang dimiliki generasi muda menjadi modal penting dalam mengolah isu lingkungan menjadi informasi yang mudah dipahami masyarakat luas.
“Tantangannya adalah bagaimana data yang kompleks bisa dikemas menjadi narasi yang sederhana, menarik, dan mampu memengaruhi opini publik hingga mendorong perubahan kebijakan,” lanjutnya.
Menurut Novi, penggunaan media sosial, visualisasi data, serta kampanye digital yang tepat sasaran dapat menjadi alat efektif dalam memperluas jangkauan advokasi lingkungan.
Membangun Generasi Berkapasitas dan Berdaya
Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Zainal, menyampaikan bahwa seminar ini merupakan bentuk komitmen Mapala Hang Tuah Raja Haji dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya peduli, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual dalam memperjuangkan isu lingkungan.
“Kami ingin mahasiswa dan pelajar tidak hanya mencintai alam secara fisik, tetapi juga mampu memahami persoalan lingkungan secara mendalam dan memperjuangkannya melalui cara-cara yang strategis,” ujar Zainal.
Ia berharap kegiatan ini dapat melahirkan kader-kader muda yang berani menyuarakan kepentingan lingkungan secara kritis dan konstruktif.
“Ke depan, kami ingin muncul lebih banyak pionir muda yang mampu menjadi penggerak perubahan, baik di lingkungan kampus, sekolah, maupun di tengah masyarakat,” tambahnya.
Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan
Selama sesi diskusi, para peserta aktif mengajukan pertanyaan, mulai dari langkah konkret yang dapat dilakukan di lingkungan sekitar hingga strategi membangun kampanye lingkungan yang efektif di era digital.
Antusiasme tersebut mencerminkan tingginya kepedulian generasi muda di Tanjungpinang terhadap isu keberlanjutan lingkungan.
Salah satu peserta, Justin Ryzi Alvino (18), mengaku mendapatkan perspektif baru terkait cara menyuarakan isu lingkungan secara lebih efektif.
“Selama ini kami hanya tahu menjaga lingkungan dari hal-hal kecil seperti tidak membuang sampah sembarangan. Tapi dari seminar ini, saya jadi paham bahwa kami juga bisa ikut menyuarakan isu lingkungan lewat media sosial dengan cara yang lebih terarah,” ujar pelajar salah satu SMA di Tanjungpinang tersebut.
Hal senada disampaikan Zalinda Pratiwi (17). Ia menilai pendekatan advokasi berbasis digital membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk terlibat aktif.
“Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi sekarang. Kami jadi tahu bagaimana mengolah informasi lingkungan menjadi konten yang bisa memengaruhi orang lain. Ini penting supaya pesan yang kita sampaikan tidak berhenti di lingkaran kecil saja,” kata Zalinda.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada tataran teori, tetapi dapat diwujudkan dalam aksi nyata.
“Ke depan, saya ingin mulai membuat kampanye kecil di media sosial, mungkin dari isu-isu sederhana di sekitar kita dulu. Dari situ harapannya bisa berkembang lebih besar,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menerapkannya dalam bentuk aksi nyata, baik melalui kampanye digital, gerakan komunitas, maupun advokasi kebijakan.
Dengan penguatan kapasitas tersebut, generasi muda diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mendorong pembangunan yang lebih berkelanjutan.











