Lebak, Jurnalkota.co.id
Minat masyarakat Kabupaten Lebak, Banten, untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci tetap tinggi meski harus menghadapi antrean keberangkatan yang sangat panjang, bahkan mencapai hingga 30 tahun.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Kabupaten Lebak, Halimatussa’diah, mengatakan bahwa setiap hari terdapat sekitar 10 hingga 13 warga yang mendaftar haji. Tingginya animo ini menunjukkan bahwa panjangnya masa tunggu tidak menyurutkan niat masyarakat untuk menjalankan rukun Islam kelima.
“Jika mendaftar tahun ini, estimasi keberangkatan baru pada 2056. Meski demikian, minat masyarakat tetap tinggi untuk mendaftar haji,” ujar Halimatussa’diah di Lebak, Rabu (8/4/2026).
Berdasarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), jumlah calon jamaah haji asal Kabupaten Lebak saat ini tercatat sebanyak 16.921 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 12.432 orang merupakan calon jamaah lanjut usia (lansia).
Ia menjelaskan, secara nasional waktu tunggu keberangkatan haji rata-rata mencapai 27 tahun. Namun, untuk wilayah Kabupaten Lebak, masa tunggu lebih panjang, yakni hingga 30 tahun.
Menurut Halimatussa’diah, kondisi ini tidak menjadi penghalang bagi masyarakat. Justru, semangat untuk berhaji tetap terjaga karena ibadah tersebut merupakan panggilan spiritual yang membutuhkan kesabaran dan keikhlasan.
“Ibadah haji adalah perjalanan religi. Karena itu, masyarakat yang sudah terdaftar diharapkan tetap sabar dan yakin bahwa pada waktunya akan mendapat kesempatan untuk berangkat ke Tanah Suci,” katanya.
Selain tingginya minat pendaftaran, persiapan pemberangkatan calon jamaah haji tahun 2026 juga hampir rampung. Halimatussa’diah menyebutkan, kesiapan teknis saat ini telah mencapai sekitar 90 persen.
“Untuk persiapan keberangkatan haji 2026 sudah mencapai 90 persen. Sisanya sekitar 10 persen masih dalam proses penyelesaian, terutama terkait kelengkapan dokumen administrasi,” ujarnya.
Adapun jumlah calon jamaah haji asal Kabupaten Lebak yang dijadwalkan berangkat pada 2026 sebanyak 745 orang. Namun, dari jumlah tersebut, tiga orang dilaporkan meninggal dunia dan satu orang dalam kondisi sakit.
Di sisi lain, panjangnya masa tunggu keberangkatan menjadi konsekuensi yang harus diterima para calon jamaah. Hal ini dirasakan langsung oleh Suhaeri (58), warga Rangkasbitung, yang telah mendaftar haji bersama istrinya.
Ia mengaku hanya bisa bersabar mengikuti prosedur yang berlaku, sembari berharap diberikan kesehatan hingga tiba waktunya berangkat ke Tanah Suci.
“Kami pasrah mengikuti antrean sesuai prosedur. Harapannya tentu tetap sehat dan panjang umur, sehingga bisa berangkat sesuai nomor urut di Siskohat,” kata Suhaeri.
Fenomena tingginya minat berhaji di tengah panjangnya antrean ini menjadi gambaran kuatnya kesadaran religius masyarakat. Di tengah berbagai keterbatasan, keinginan untuk menunaikan ibadah haji tetap menjadi prioritas dan cita-cita yang terus dijaga.
Penulis: Noma
Editor: Antoni














