Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan 40 siswa madrasah Aliyah dari berbagai provinsi menjadi Inisiator Muda Moderasi Beragama (IMMB) atau dikenal juga dengan sebutan Duta Moderasi Beragama. Mereka akan mensosialisasikan moderasi beragama di kalangan sebaya dan publikasi melalui media sosial (magentatoday.id, 13-11-2024).
Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Abu Rochmad mengatakan, saat ini Indonesia memiliki tantangan besar untuk dapat menstimulasi cara pandang, sikap, dan perilaku generasi muda dalam beragama di tengah keberagaman, termasuk siswa madrasah. Terutama dari kelompok yang memiliki cara pandang intoleran.
Duta Moderasi sebagai bentuk antisipasi keberpengaruhan siswa madrasah. Essensi beragama yang harus dihayati , kata Abu Rochmad yaitu menjaga harkat, martabat, dan peradaban manusia, bersikap ‘di tengah’ dan tidak berlebihan sehingga mampu menciptakan lingkungan yang harmonis di antara sivitas akademika, menghargai perbedaan, menciptakan persatuan, dan menolak ekstrimisme.
Seolah Masalah Utama, Moderasi Beragama Terus Digencarkan
Benarkah masalah utama Bangsa ini karena agama (Islam)? Bangsa ini mayoritas muslim, namun malah diarusutamakan Islam inilah trouble maker dari setiap persoalan yang terjadi. Terlebih generasi penerus bangsa yang terus dicekoki dengan moderasi beragama, agar pemahaman agama Islam mereka menjadi “pemahaman tengah”, yang mana hal ini tak pernah ada dalam bahasan Islam sendiri sejak diturunkan sebagai Wahyu kepada Rasulullah Saw. hingga tersebar di seluruh penjuru dunia dan diemban oleh berbagai suku bangsa.
Islam adalah agama yang meyakini Allah SWT sebagai satu-satunya yang wajib disembah, dan Rasulullah utusan Allah, satu-satunya yang wajib dijadikan teladan. Namun karena kini Islam hanya diemban oleh individu-individu sejak institusi pelindungnya yakni Khilafah telah diruntuhkan kafir penjajah laknatullah jadilah kafir punya panggung untuk menanamkan cara pandang mereka yang sangat bertentangan dengan Islam.
Barat mengunggulkan ide kebebasan mutlak, dalam hal apapun termasuk beragama. Bagi sebagian kafir yang lain, seperti sosialis komunis beragama justru dianggap candu yang merugikan manusia. Sejengkal demi sejengkal kaum muslim mengikuti kafir. Saking masifnya ide kebebasan ini dipropagandakan, sementara kaum muslim dibodohkan dengan agamanya sendiri.
Mirisnya, moderasi beragama ditetapkan sebagai program pemerintah hingga masuk ke dalam RPJMN 2020—2024, pemerintah terus berupaya agar dakwah yang dilakukan oleh para dai atau penceramah agama hingga siswa madrasah yang nota bene kurikulumnya berbasis Islam adalah dakwah yang moderat.
Mereka yang tidak menggubris akan mendapat label “radikal”, serta dihalangi-halangi dalam dakwah. Tidak boleh menjadi khatib Jumat ataupun mengisi kajian keislaman di berbagai forum dan media. Bahkan, ada sebagian pengajian di beberapa daerah yang dibubarkan paksa oleh ormas tertentu dengan alasan radikal, padahal semua yang disampaikan adalah ajaran Islam.
Sekarang, duta moderasi diminta untuk menginisiasi moderasi beragama melalui teman sebaya. Mengajak kaum muda yang seusianya tunduk kepada cara pandang asing dan meninggalkan Islam yang ” kaku” dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.
Padahal Allah SWT. berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya”. (TQS Al-Hijr:9). Siapa yang mampu menandingi Allah sebagai penjaga terbaik Alquran? Jika hari ini tampak tak sesuai karena hanya dihafal, dipelajari cara membacanya, tapi tidak diterapkan. Kita justru mengambil hukum buatan Belanda guna mengatur seluruh urusan manusia di dunia.
Berdasarkan hasil survei dari Good News from Indonesia (GNFI) bersama Lembaga Survei Kelompok Kajian dan Diskusi Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) pada 7—22 Juli 2022, 10 permasalahan utama di Indonesia menurut perspektif pemuda Gen Z (17—24 tahun) dan Gen Y (25—40 tahun) di 11 kota besar di Indonesia adalah korupsi, harga kebutuhan pokok, krisis ekonomi, pengangguran, kebijakan pemerintah, penegakan hukum tidak adil, kemiskinan, krisis moralitas, kualitas pendidikan, dan intoleransi. Persoalan agama bukan yang utama. Jelas ini hanya rekayasa.
Mengapa kemudian kita disibukkan dengan urusan yang sebetulnya bukan masalah besar?
Islam Terbaik Bagi Manusia, Siapapun dia
Moderasi beragama harus ditolak karena akan menjauhkan umat dari solusi hakiki terhadap seluruh permasalahan mereka. Umat dihalang-halangi mendapat informasi yang benar dan lengkap tentang keagungan dan kemampuan syariat Islam menyelesaikan seluruh problem umat manusia. Terutama bagi generasi penerus bangsa, potensi mereka tidak boleh terjegal oleh ide batil kafir dan para anteknya.
Moderasi Beragama, hakikatnya adalah upaya mereduksi ajaran Islam, serta menghalangi umat Islam dari pemahaman Islam yang benar, yakni Islam kafah, Islam yang berasal dari Allah Taala. Lantas, apakah kita akan diam saja melihat semua upaya menghalangi dakwah ini? Tentu saja tidak! Masalah utama kita adalah diterapkannya sistem kapitalisme sekuler dan dicampakkannya syariat Islam, jadi inilah fokus kita, mencabut sistem batil hingga ke akarnya.
Moderasi beragama tidak lepas dari rancangan penjajah Barat di negeri muslim untuk mengadang kebangkitan Islam. Moderasi beragama digagas oleh RAND Corporation sebagai bagian dari rekayasa global. Proyek ini merupakan kelanjutan dari proyek war on terrorism (WoT) yang sejatinya merupakan perang melawan ideologi Islam dan para pengembannya. Melalui proyek ini, mindset umat Islam diubah agar tidak lagi berpandangan buruk terhadap Barat beserta nilai-nilainya.
Mereka menyebut Islam yang dimoderasi sebagai Islam ramah, inklusif, dan berkemajuan. Sementara itu, Islam kafah distigma sebagai Islam marah, eksklusif, dan terbelakang. Oleh karenanya, alih-alih menjadi solusi bagi problem pemuda, proyek moderasi Islam justru menjadi pengukuh kerusakan dan penjajahan.
Sangat bertentangan dengan tujuan didirikan madrasah aliyah yaitu untuk membentuk siswa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, juga bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab dengan mengajarkan mata pelajaran seperti Alquran Hadits, Aqidah Akhlaq, Fiqih, Sejarah Kebudayaan Islam, dan Bahasa Arab.
Sementara dengan moderasi, semua modul pembelajaran yang semestinya mampu membentuk kepribadian Islam yang tangguh mentah begitu saja karena dimoderasi, dimutilasi hingga hanya dianggap teori. Wajar jika generasi muda kita kian kesini kian bermasalah. Sebab tools pembelajarannya menyimpang dari asasnya, yaitu akidah Islam.
Rasulullah saw. bersabda, “Islam itu tinggi dan tidak ada yang bisa menandingi ketinggian Islam.” (HR Ad-Daruquthni). Maka, tidak ada lagi yang kita perjuangkan selain menolak moderasi beragama diajarkan dimana pun, sekali Islam ya Islam saja tanpa ada embel apapun. Wallahualam bissawab














