www.jurnalkota.co.id
Oleh: Alia Salsa Rainna
Aktivis Dakwah
Isu kesehatan mental remaja di Indonesia kembali mengemuka seiring meningkatnya tekanan akademik, pengaruh media sosial, serta kompleksitas pergaulan yang dihadapi generasi muda. Remaja tidak hanya dituntut berprestasi, tetapi juga dituntut tampil “sempurna” di ruang sosial, baik nyata maupun digital. Tekanan ini, jika tidak dikelola secara tepat, berpotensi menimbulkan stres dan kecemasan berkepanjangan.
Kesadaran akan persoalan tersebut mulai mendapat perhatian. Dharma Wanita Persatuan (DWP) Provinsi Sumatera Utara, misalnya, menggelar Seminar Kesehatan Mental bertema “Let’s Talk Mental Health: Kenali Stres, Cemas, dan Cara Mengelolanya” di SMA Dharma Pancasila, Medan, pada 18 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya membangun ruang dialog yang sehat bagi remaja untuk memahami kondisi psikologisnya (sumutprov.go.id).
Ketua DWP Provinsi Sumatera Utara, Evi Novida Sulaiman Harahap, menegaskan bahwa kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Menurutnya, anak dan remaja saat ini menghadapi tekanan dari berbagai arah sekolah, keluarga, hingga lingkungan sosial yang apabila diabaikan dapat memicu gangguan mental.
Harapannya, seminar semacam ini menjadi ruang aman bagi pelajar untuk mengenali emosi diri, berani berbicara, serta memahami cara-cara positif dalam mengelola stres dan kecemasan. Namun, kegiatan edukatif semata belum cukup jika tidak dibarengi dengan evaluasi mendasar terhadap sistem yang melahirkan tekanan itu sendiri.
Fenomena meningkatnya gangguan kesehatan mental pada remaja tidak bisa dilepaskan dari sistem kehidupan kapitalistik yang menempatkan kompetisi, pencapaian materi, dan standar kesuksesan sebagai tolok ukur utama. Remaja dinilai dari angka, peringkat, dan pencitraan sosial. Nilai akademik dan pengakuan publik termasuk di media sosial sering kali menjadi penentu harga diri.
Akibatnya, tekanan mental menjadi konsekuensi yang dianggap wajar, bahkan kerap diabaikan. Pendidikan berubah menjadi arena persaingan, bukan proses pembentukan manusia seutuhnya.
Islam memandang manusia secara berbeda. Dalam Islam, manusia adalah makhluk yang memiliki dimensi fisik dan spiritual yang keduanya harus dipenuhi secara seimbang. Pencapaian dunia bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk meraih ridha Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan batin sejati tidak bersumber dari prestasi materi atau pengakuan manusia, melainkan dari kedekatan kepada Sang Pencipta. Ketika iman menjadi fondasi, seseorang memiliki sudut pandang yang lebih lurus dalam menghadapi tekanan hidup, termasuk tekanan akademik dan sosial.
Dalam pandangan Islam, kesehatan mental remaja harus ditangani dari akar persoalan dengan menjadikan akidah sebagai landasan hidup. Remaja perlu diarahkan untuk memahami tujuan hidupnya agar mampu menyikapi tuntutan akademik dan sosial secara proporsional.
Pendidikan Islam tidak semata mengejar prestasi, tetapi membentuk kepribadian yang seimbang antara akal, jasad, dan ruh. Di sinilah peran keluarga, lingkungan, dan negara menjadi krusial dalam menciptakan sistem pendidikan yang sehat bebas dari tekanan berlebihan agar remaja tumbuh dengan jiwa yang tenang, tangguh, dan berkepribadian Islami.
Wallahu a‘lam bish-shawab.













