Lebak, Jurnalkota.co.id
Ratusan petani di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terpaksa menganggur akibat serangan hama kawanan babi hutan dan monyet liar yang merusak tanaman pertanian. Serangan tersebut menyebabkan gagal panen dan kerugian ekonomi yang tidak sedikit.
Kepala Desa Cimangeunteung, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Uci Sanusi, mengatakan sekitar 500 petani di wilayahnya tidak lagi mengolah lahan karena serangan hama tersebut terus berulang.
“Sekitar 500 petani kini menganggur setelah kebunnya diserang babi hutan dan monyet liar,” kata Uci di Lebak, Selasa (23/12/2025).
Uci menjelaskan, para petani sebelumnya mengandalkan pertanian ladang sebagai sumber penghasilan. Namun, serangan hama membuat tanaman yang siap panen, seperti singkong, jagung, ubi jalar, pisang, hingga pepaya, mengalami gagal panen.
Padahal, rata-rata pendapatan petani dari hasil pertanian mencapai sekitar Rp500.000 per bulan. Jika dikalkulasikan, kerugian yang dialami sekitar 500 petani itu mencapai Rp3 miliar per tahun.
“Penghasilan petani hilang total akibat gagal panen,” ujarnya.
Hal serupa dialami Patma, seorang petani di sekitar Gedung BPMP Rangkasbitung. Ia mengaku lahan seluas 5.000 meter persegi yang ditanami palawija rusak akibat serangan babi hutan.
“Babi hutan biasanya datang sekitar pukul 01.00 WIB dari kawasan perkebunan kelapa sawit,” kata Patma.
Menurut Patma, serangan babi hutan mulai sering terjadi sejak pembangunan Waduk Karian. Sebelumnya, gangguan satwa liar tersebut hampir tidak pernah dialami petani.
“Kami menduga habitat babi hutan berubah karena kawasan tempat tinggalnya kini menjadi waduk,” ujarnya.
Sementara itu, Katma, petani di Desa Sindangwangi, Kecamatan Muncang, mengaku tidak lagi menanam pisang, jagung, ubi, maupun singkong karena tanaman kerap dirusak kawanan monyet.
Ia menduga kerusakan habitat satwa liar di kawasan gunung akibat eksplorasi pertambangan batu turut memicu meningkatnya gangguan terhadap lahan pertanian warga.
“Sekarang populasi babi hutan dan monyet makin banyak merusak kebun warga akibat kerusakan kawasan gunung,” katanya.
Kepala Bidang Produksi Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Deni Iskandar, membenarkan bahwa serangan hama satwa liar terjadi akibat alih fungsi lahan yang mengganggu habitat hewan.
“Satwa mencari makanan ke kebun warga karena habitatnya terganggu. Umumnya lokasi serangan berada dekat kawasan hutan atau perkebunan sawit,” kata Deni.
Ia berharap petani dapat meningkatkan pengamanan tanaman, terutama pada malam hingga dini hari, untuk meminimalkan kerusakan akibat serangan satwa liar.
Penulis : Noma
Editor : Antoni














