Darurat Pembunuhan, Pendidikan Kian Redup

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Puput Ariantika, S.T.

Seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta dilaporkan meninggal dunia diduga akibat penganiayaan oleh seniornya. Jumat pagi, (3/5/2024). Dari hasil pemeriksaan sementara juga ditemukan ada tanda kekerasan di tubuh korban. (CNN Indonesia, 3 Mei 2024).

Hasil visum et repertum yang diperoleh Kepolisian Resor (Polres) Metro Jakarta Utara memastikan siswa di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta berinisial P (19) meninggal dunia karena pukulan benda tumpul. Hingga kini polisi pun menetapkan empat orang tersangka pada konstruksi pidana kekerasan eksesif yang terjadi di lingkungan STIP Jakarta.(Antaranews.com, 9 Mei 2024).

Dalam kasus penganiayaan ini, Polres Metro Jakarta Utara resmi menetapkan Tegar Rafi Sanjaya yang merupakan taruna tingkat dua STIP Jakarta sebagai tersangka. Akibat perbuatannya, Tegar dijerat dengan pasal 338 juncto subsider Pasal 351 ayat 3 KUHP dengan ancaman hukuman penjara selama 15 tahun. (Tempo.co, 9 Mei 2024).

Kasus pembunuhan ini bukanlah yang pertama kali terjadi di sekolah STIP Jakarta. Pembunuhan yang terakhir ini adalah kasus keempat. Penyebab kematian karena penganiayaan yang dilakukan oleh senior terhadap juniornya. Alasan senior melakukan penganiayaan karena Junior tidak disiplin. Ditambah lagi senior menganggap status sosial lebih tinggi dibandingkan junior. Sehingga junior harus takut pada senior. Mental inilah yang masih tertanam kuat dalam dunia perguruan tinggi.

Kasus pembunuhan ini menambah potret buram dunia pendidikan di perguruan tinggi. Pendidikan tinggi harusnya menjadi tempat mencetak generasi yang bermartabat, malah ternodai dengan peristiwa pembunuhan ini. Pendidikan tinggi yang menjadi harapan semua orang tua agar nasib anaknya berubah dikemudian hari. Malah menjadi tempat yang mengancam jiwa anak-anaknya.

Perlu kita cermati bersama, lahirnya generasi seperti ini tidak lain dan tidak bukan adalah buah penerapan sistem pendidikan sekularisme. Pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan akan melahirkan generasi yang tidak berakhlak dan zolim. Generasi yang tidak takut hukuman dari Allah, apalagi pada hukuman manusia. Generasi yang tega menyakiti orang lain bahkan sampai menghilangkan nyawa. Sungguh sistem pendidikan sekularisme telah gagal melahirkan generasi yang Sholih.

Berbeda halnya dengan Islam. Islam punya sistem pendidikan terbaik yang akan melahirkan generasi cemerlang. Dalam konsep pendidikan Islam pembentukan karakter merupakan bagian terpenting dalam proses pendidikan. Pendidikan ini yang menjadikan generasi Islam manusia yang Sholih dan Muslih. Generasi yang menjadikan agama sebagai pedoman hidup agar tidak tersesat. Generasi yang akan mencintai saudaranya.

Adapun asas dari pendidikan Islam adalah aqidah Islam. Asas ini mempunyai pengaruh dalam setiap aktivitas pembelajaran. Mulai dari penyusunan kurikulum, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, dan interaksi antara seluruh komponen. Aqidah Islam digunakan sebagai kaidah dan tolak ukur pemikiran dan perbuatan. Sedangkan tujuan dari pendidikan Islam yaitu membentuk manusia yang berkarakter. Manusia yang berkarakter yakni berkepribadian Islam, Menguasai pemikiran Islam, Menguasai ilmu kehidupan (sains dan teknologi).

Namun dalam kasus pembunuhan mahasiswa STIP ini bukan hanya gagalnya sistem pendidikan tapi juga karena lemahnya hukuman yang diberlakukan oleh negara terhadap pelaku kejahatan termasuk pembunuhan. Negara hanya menetapkan hukuman bagi si pembunuh yakni penjara 15 tahun. Yang kemudian akan ada pengurangan masa tahanan jika si pembunuh berkelakuan baik. Hukuman ini sungguh ringan untuk seseorang yang menghilangkan nyawa orang lain.

Berbeda dengan Islam yang punya hukuman seadil-adil hukum. Hukum Islam juga sebagai pencegah dan penebus dosa. Dalam kasus pembunuhan ini maka pelaku akan di qisas yaitu dibunuh dan membayar diyat (denda) kepada keluarga korban. Jika dia dimaafkan oleh keluarga korban maka dia wajib membayar diyat. Ketika ini diterapkan maka akan mencegah orang lain melakukan pembunuhan. Dan diakhirat tidak ada dosa baginya.

Jelaslah sudah bahwa Islam menjadi jalan bagi kita untuk menyelamatkan generasi muda saat ini. Maka kita tidak boleh lagi menunda atau hanya diam terhadap kerusakan generasi saat ini. Mari sama sama kita perjuangkan Islam agar diterapkan di tengah tengah hidup kita.***

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed