Di Balik Overthinking Generasi Z: Antara Tekanan Zaman dan Pencarian Solusi

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Shabrina Nibrasalhuda
Mahasiswi

Kecemasan terhadap masa depan kini menjadi fenomena yang semakin akrab di kalangan Generasi Z. Survei GoodStats pada 2024 menunjukkan sebanyak 60 persen Generasi Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan, terutama terkait pekerjaan, kondisi ekonomi, dan kehidupan yang akan dijalani. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk Kompas yang menyoroti meningkatnya persoalan kesehatan mental di kalangan remaja Indonesia.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara. Ketidakpastian karier, sulitnya memperoleh pekerjaan, tekanan sosial, serta paparan media sosial menjadi sejumlah faktor yang memperbesar kecemasan generasi muda.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, mulai muncul sikap yang lebih kritis dari kalangan Generasi Z terhadap persoalan sosial yang mereka hadapi. Menurut penulis, kecenderungan tersebut dapat menjadi modal penting bagi lahirnya perubahan apabila diarahkan pada solusi yang tepat.

Meningkatnya kecemasan di kalangan Generasi Z, menurut penulis, tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan kesehatan mental individu. Berbagai faktor seperti media sosial, tekanan sosial, maupun ketidakpastian karier memang berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Namun, faktor-faktor itu dipandang hanya sebagai gejala dari persoalan yang lebih mendasar, yakni krisis multidimensi yang terjadi dalam kehidupan modern.

Krisis ekonomi, tingginya persaingan kerja, perubahan sosial yang berlangsung cepat, serta derasnya arus digital menciptakan ketidakpastian yang terus membayangi generasi muda.

Penulis berpandangan, persoalan tersebut berakar pada sistem kehidupan sekuler-kapitalistik yang menjadikan materi sebagai ukuran utama keberhasilan. Dalam sistem itu, manusia didorong untuk terus bersaing dan mengejar pengakuan sehingga kebahagiaan sering kali diukur berdasarkan capaian duniawi.

Generasi muda dituntut memperoleh pendidikan terbaik, pekerjaan bergengsi, dan penghasilan tinggi. Di sisi lain, media sosial memperkuat budaya validasi dan perbandingan diri sehingga banyak orang merasa tertinggal ketika tidak mampu memenuhi standar kesuksesan yang terbentuk di ruang digital.

Akibatnya, kecemasan tidak lagi menjadi persoalan individu, tetapi berkembang menjadi fenomena sosial yang meluas.

Ironisnya, menurut penulis, generasi muda justru kerap menerima stigma sebagai kelompok yang manja, lemah mental, atau tidak mampu menghadapi tantangan. Padahal, negara dinilai seharusnya menjalankan fungsi riayah atau pengurusan dengan menghadirkan pendidikan yang membentuk kepribadian yang kuat, menjamin kesejahteraan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Meski demikian, penulis menilai fenomena tersebut juga memiliki sisi positif. Keresahan yang dirasakan Generasi Z menunjukkan mulai tumbuhnya kesadaran bahwa terdapat persoalan mendasar dalam sistem kehidupan saat ini. Sikap kritis tersebut dinilai dapat menjadi modal perubahan apabila diarahkan pada upaya memperbaiki akar persoalan, bukan sekadar menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada.

Perspektif Islam

Dalam pandangan penulis, solusi terhadap persoalan tersebut tidak cukup hanya melalui terapi psikologis atau kampanye kesehatan mental. Islam dipandang menawarkan penyelesaian yang menyentuh akar persoalan, baik pada tingkat individu maupun sistem kehidupan.

Penulis menjelaskan bahwa Islam merupakan mabda (ideologi) yang mengatur kehidupan secara menyeluruh, mulai dari hubungan manusia dengan Allah SWT hingga aspek sosial, ekonomi, pendidikan, dan pemerintahan. Menurut penulis, penerapan syariat Islam secara kaffah diyakini mampu menghadirkan kehidupan yang adil, tenteram, dan membawa keberkahan.

Penulis juga mengemukakan bahwa sejarah peradaban Islam menunjukkan generasi muda mampu tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, berilmu, dan memiliki orientasi hidup untuk meraih rida Allah SWT. Dari sistem tersebut lahir banyak ilmuwan, pemimpin, dan tokoh yang memberikan kontribusi besar bagi peradaban.

Selain itu, penulis berpandangan bahwa dalam Islam negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyat. Karena itu, negara berkewajiban memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, menyediakan pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, serta menghadirkan sistem ekonomi yang mampu membuka lapangan kerja dan menjamin kesejahteraan secara adil.

Pada akhirnya, penulis berpendapat Generasi Z tidak cukup hanya diajak bertahan menghadapi berbagai tekanan kehidupan. Mereka juga perlu didorong menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut penulis, kecemasan yang kini membayangi Generasi Z tidak harus menjadi akhir dari perjalanan mereka. Dengan berpegang pada nilai-nilai Islam serta didukung penerapan syariat secara kaffah, keresahan dapat diubah menjadi energi untuk membangun peradaban yang lebih baik dan membawa rahmat bagi seluruh alam.**

 

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *