Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Ketua Tim Penggerak PKK Kota Tanjungpinang, Yuniarni Pustoko Weni, mengingatkan pentingnya keberanian melapor serta perlindungan terhadap korban kekerasan seksual, khususnya di kalangan generasi muda.
Hal itu disampaikan Weni saat menjadi narasumber dalam kegiatan Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Tanjungpinang-Bintan yang dirangkaikan dengan seminar kekerasan seksual, di Auditorium Razali Jaya STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau (Kepri), Sabtu (2/5/2026).
Dalam paparannya, Weni menegaskan bahwa kesetaraan gender merupakan fondasi utama dalam mencegah berbagai bentuk kekerasan, baik di lingkungan keluarga, pendidikan, maupun masyarakat luas. Menurutnya, pemahaman yang keliru tentang relasi gender kerap menjadi akar terjadinya tindakan kekerasan.
“Kesetaraan gender bukan berarti menyamakan segalanya, tetapi bagaimana kita saling menghormati, menghargai, dan menjunjung tinggi martabat sesama manusia,” ujarnya.
Ia menyoroti, di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini, tantangan yang dihadapi masyarakat justru semakin kompleks. Salah satu persoalan yang muncul adalah menurunnya empati sosial, yang berpotensi memicu terjadinya kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
“Teknologi semakin maju, tetapi empati jangan sampai justru semakin berkurang. Banyak kasus kekerasan berawal dari cara pandang atau mindset yang salah terhadap orang lain,” katanya.
Weni juga menjelaskan bahwa kekerasan seksual tidak selalu berbentuk fisik. Bentuk lain seperti pelecehan verbal, tekanan psikologis, hingga eksploitasi melalui media digital kini semakin marak terjadi, terutama di kalangan remaja dan mahasiswa.
Ia mengungkapkan, banyak kasus kekerasan seksual yang tidak terungkap karena korban memilih untuk diam. Faktor rasa takut, malu, hingga tekanan sosial menjadi penyebab utama rendahnya pelaporan.
“Korban sering kali memilih diam karena takut disalahkan atau tidak didukung lingkungan. Padahal, diam justru membuat pelaku merasa leluasa mengulangi perbuatannya,” ucapnya.
Karena itu, Weni mendorong generasi muda untuk berani bersuara ketika mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan. Ia menekankan pentingnya membangun budaya saling mendukung dan melindungi korban.
“Jangan pernah menjadi silent witness. Jika melihat atau mengalami kekerasan, beranilah berbicara dan melapor. Kita semua punya tanggung jawab menciptakan lingkungan yang aman,” tegasnya.
Selain itu, ia juga mengajak mahasiswa untuk terus meningkatkan kapasitas diri, baik dari sisi intelektual maupun karakter. Menurutnya, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dalam membangun masyarakat yang lebih adil dan beradab.
Weni menekankan pentingnya integrasi antara nilai keagamaan, keilmuan, dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bekal tersebut, mahasiswa diharapkan mampu menjadi generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
“Mahasiswa harus mampu menjadi agen transformasi. Tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga berani bersikap, peduli terhadap sesama, dan aktif menciptakan lingkungan yang inklusif serta bebas dari kekerasan,” ujarnya.
Kegiatan MAPABA PMII ini menjadi salah satu upaya pembekalan awal bagi mahasiswa baru dalam memahami isu-isu sosial yang berkembang, sekaligus memperkuat nilai-nilai kepemimpinan, kepekaan sosial, dan tanggung jawab moral di tengah masyarakat.








