Batam, Jurnalkota.co.id
Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas IIA Batam Yosafat Rizanto menghadiri diskusi kelompok terarah atau focus group discussion (FGD) layanan reintegrasi berkelanjutan yang diselenggarakan Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Batam, Jumat (16/10/2026).
Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan peluncuran aplikasi SIGAP sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas layanan pemasyarakatan. Acara berlangsung di Ruang Rapat Hotel Wyndham Panbil Batam, Jalan Ahmad Yani, Muka Kuning, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam, Kepulauan Riau.
Mengusung tema “Sinergi dan Kolaborasi untuk Memperkuat Layanan Reintegrasi yang Berkelanjutan”, forum ini membahas penguatan koordinasi antarinstansi dalam mendukung proses reintegrasi sosial klien pemasyarakatan.
Fokus pembahasan meliputi layanan pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan. Ketiga aspek tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap klien pemasyarakatan dalam menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Kehadiran Yosafat dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari keterlibatan jajaran pemasyarakatan untuk memperkuat koordinasi layanan reintegrasi. Forum ini mempertemukan unsur pemasyarakatan, akademisi, dan kepolisian dalam pembahasan mengenai pelayanan yang berkesinambungan.
“Reintegrasi sosial membutuhkan kerja sama yang berkelanjutan antara jajaran pemasyarakatan dan instansi terkait. Melalui forum ini, kami berharap pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan terhadap klien pemasyarakatan dapat semakin terpadu sehingga membantu mereka kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat,” ujar Yosafat.
Penguatan koordinasi lintas sektor
Kegiatan dibuka dengan sambutan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Riau M. Pithra Jaya Saragih. Pada kesempatan yang sama, Pithra meresmikan peluncuran aplikasi SIGAP.
Peluncuran aplikasi tersebut menjadi bagian dari agenda peningkatan kualitas pelayanan pemasyarakatan. Sementara itu, FGD diarahkan untuk memperkuat sinergi dalam penyelenggaraan layanan reintegrasi yang efektif, terpadu, dan berkelanjutan.
Sejumlah narasumber dihadirkan dalam kegiatan ini, yakni Dekan Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan (Unrika), Pembimbing Kemasyarakatan Ahli Madya, Kepala Bidang Pembimbing Kemasyarakatan Ditjenpas Kepulauan Riau, serta Kepala Seksi Hukum Polresta Barelang.
Para narasumber membahas pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan reintegrasi sosial. Keterlibatan berbagai unsur tersebut memberikan ruang untuk membahas layanan pemasyarakatan dari beragam perspektif.
Pembahasan mengenai koordinasi menjadi penting karena pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan merupakan layanan yang saling berkaitan. Pelaksanaannya membutuhkan keselarasan agar dukungan terhadap klien dapat berlangsung secara berkesinambungan.
Dalam konteks kegiatan ini, reintegrasi sosial menjadi perhatian bersama para pihak yang terlibat. Dukungan terhadap klien diarahkan untuk membantu proses mereka kembali menjalani kehidupan dan berinteraksi di lingkungan masyarakat.
Karena itu, penguatan hubungan antarinstansi menjadi salah satu tujuan penyelenggaraan forum. Melalui koordinasi, masing-masing pihak diharapkan dapat mendukung layanan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
Kehadiran unsur akademisi, pemasyarakatan, dan kepolisian juga membuka ruang dialog mengenai keterpaduan pelayanan. Pertemuan tersebut diharapkan memperkuat pemahaman bersama tentang pentingnya kesinambungan dukungan bagi klien pemasyarakatan.
“Lapas Batam siap memperkuat koordinasi dengan Bapas dan para pemangku kepentingan. Harapannya, dukungan yang diberikan dapat membantu klien membangun kemandirian, menjalankan tanggung jawab sosial, dan tidak kembali melakukan pelanggaran hukum,” tambah Yosafat.
Mendorong kesinambungan pelayanan
Keberlanjutan menjadi perhatian utama dalam tema FGD. Dalam kerangka tersebut, pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan dipandang sebagai rangkaian layanan yang perlu berjalan secara selaras untuk mendukung proses reintegrasi sosial.
Pembimbingan dan pendampingan berkaitan dengan dukungan selama klien menjalani proses reintegrasi. Adapun pengawasan menjadi bagian dari pelaksanaan layanan pemasyarakatan yang turut mendukung keberlangsungan proses tersebut.
Keterkaitan layanan itu menempatkan koordinasi sebagai kebutuhan bersama. Penguatan kerja sama diharapkan membantu setiap unsur menjaga arah pelayanan agar tetap berfokus pada keberhasilan reintegrasi klien pemasyarakatan.
Selain mempertemukan berbagai instansi, forum ini bertujuan membangun komitmen bersama dalam pelaksanaan tugas dan fungsi pemasyarakatan. Komitmen tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas pelayanan secara berkesinambungan.
Peluncuran SIGAP turut melengkapi rangkaian kegiatan penguatan layanan tersebut. Aplikasi ini diperkenalkan sebagai bagian dari upaya mendukung peningkatan kualitas pelayanan pemasyarakatan, sejalan dengan tujuan penyelenggaraan FGD.
Adapun pembahasan lintas sektor berfokus pada dukungan terhadap proses reintegrasi sosial. Melalui forum ini, para pihak diharapkan memiliki pemahaman yang semakin selaras mengenai pentingnya layanan yang terpadu.
Bapas Kelas II Batam berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat sinergi antarinstansi dalam penyelenggaraan layanan pemasyarakatan. Kerja sama yang terbangun diharapkan mendukung pembimbingan, pendampingan, dan pengawasan sesuai dengan peran masing-masing.
Dengan dukungan berbagai pihak, peningkatan kualitas layanan diharapkan dapat membantu keberhasilan reintegrasi sosial klien pemasyarakatan. Tujuan akhirnya adalah mendukung mereka kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat melalui layanan yang efektif dan berkelanjutan.









