www.jurnalkota.co.id
Oleh: Suci Musada
Aktivis Muslimah
Malam di Belawan bukan sekadar gelap, tetapi juga tegang. Kesunyian terasa berat, seolah setiap sudut menyimpan potensi bahaya. Pada 21 Januari 2026, ketegangan itu “dipecahkan” oleh deru kendaraan patroli dan kilatan senjata. Dua puluh personel Brimob Batalyon B Pelopor bersama Polres Pelabuhan Belawan menggelar patroli Kegiatan Rutin yang Ditingkatkan (KRYD), menyisir sejumlah ruas jalan dan kawasan yang selama ini dicap rawan kejahatan jalanan, tawuran, dan pungutan liar. Imbauan kamtibmas disampaikan. Negara pun hadir lengkap dengan laras panjang.
Bagi sebagian warga, pemandangan ini menghadirkan rasa aman yang ganjil. Ada ketenangan, tetapi bercampur ketakutan yang terselubung. Sebab, ketika keamanan dijaga dengan senjata, yang lahir bukanlah damai, melainkan ketertiban yang dipaksakan. Rasa aman semacam ini rapuh; ia hanya bertahan selama patroli masih berkeliling. Ketika aparat pergi, kecemasan kembali mengendap di sudut-sudut gang.
Kehadiran aparat bersenjata sejatinya merupakan pengakuan diam-diam bahwa keamanan Belawan belum pernah benar-benar pulih. Lebih jauh, hal itu menyingkap kegagalan negara membangun rasa aman secara alami. Kejahatan diperlakukan sebagai gangguan teknis yang bisa diatasi dengan patroli, bukan sebagai gejala dari sistem yang menumpuk ketimpangan dan membiarkan luka sosial menganga.
Di titik inilah kapitalisme menampakkan wajah aslinya. Sistem ini mahir menciptakan kesenjangan, lalu berpura-pura terkejut ketika kesenjangan itu meledak menjadi kriminalitas. Lapangan kerja menyempit, biaya hidup melonjak, pendidikan dan akses ekonomi tak merata, sementara hukum kerap tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Semua ini dibiarkan berlangsung lama. Namun, ketika tawuran, begal, dan pungutan liar merebak, negara tampil seolah tak memahami sebab-musababnya.
Ironisnya, negara sering kali lebih sigap mengirim aparat ketimbang menghadirkan keadilan. Saat rakyat kecil berjuang mempertahankan hidup, yang diminta adalah kesabaran. Namun, ketika frustrasi menjelma gangguan ketertiban, negara datang dengan senjata. Kapitalisme melahirkan kemiskinan struktural, lalu aparat dijadikan pemadam kebakaran sosial. Api dipadamkan di permukaan, sementara sumbernya dibiarkan menyala.
Dalam sistem sekuler, keamanan seolah menjadi urusan aparat semata. Seakan cukup dengan patroli, persoalan selesai. Padahal, keamanan sejati tidak lahir dari moncong senjata, melainkan dari kehidupan yang layak dan keadilan yang nyata. Selama sistem kapitalis terus dipertahankan, patroli bersenjata hanya akan menjadi ritual kegagalan—datang tiba-tiba, berkeliling sebentar, lalu pergi, meninggalkan masalah yang sama.
Islam menawarkan jalan yang berbeda dan menenteramkan. Dalam Islam, keamanan bukan proyek sesaat, melainkan buah dari penerapan sistem yang menyeluruh. Negara berkewajiban menjamin kebutuhan dasar rakyat pangan, sandang, papan, pendidikan, dan kesehatan sehingga tidak ada alasan struktural bagi masyarakat untuk terjerumus ke dalam kejahatan. Hukum ditegakkan tegas tanpa pandang bulu, bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menjaga keadilan.
Allah Swt. berfirman:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai, serta Dia benar-benar akan menukar rasa takut mereka menjadi aman sentosa.”
(QS. An-Nur [24]: 55)
Ayat ini menegaskan bahwa keamanan sejati tidak lahir dari laras panjang, melainkan dari penerapan aturan Allah secara menyeluruh. Rasa aman adalah buah dari keadilan yang ditegakkan, kebutuhan rakyat yang dijamin, serta negara yang berfungsi sebagai pengurus, bukan sekadar penjaga ketertiban.
Dalam sistem Islam, aparat tetap ada, tetapi bukan sebagai simbol intimidasi. Mereka hadir sebagai penjaga amanah, bagian dari negara yang mengurus rakyat dengan tanggung jawab. Keamanan tumbuh bukan karena rakyat takut, melainkan karena hidup mereka terurus dan hak-hak mereka dijaga. Inilah ketenangan yang tidak perlu dipamerkan dengan senjata.
Belawan tidak kekurangan patroli. Belawan kekurangan keadilan sistemik. Selama negara memilih mempertahankan kapitalisme yang melahirkan ketimpangan, keamanan akan terus berada dalam mode darurat. Islam hadir bukan sebagai tambalan sementara, melainkan sebagai solusi dari akar persoalan membangun keamanan yang menetap, adil, dan bermartabat.
Wallahualam bisshawab.














