Jakarta, Jurnalkota.co.id
Peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan I Kelompok I Tahun 2026 dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Sumatera Utara mempelajari inovasi pelayanan kesehatan melalui studi lapangan di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Kamis (8/10/2026).
Salah satu inovasi yang dipelajari adalah JakCare, yang diperkenalkan dalam kegiatan tersebut sebagai pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung integrasi informasi dan pelayanan kesehatan.
Melalui kegiatan ini, peserta mendalami pengelolaan organisasi, pengembangan inovasi pelayanan publik, serta pemanfaatan teknologi untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Salah seorang peserta PKA, Daniel Maxrinto, mengatakan, studi lapangan tersebut memberikan pemahaman mengenai proses membangun inovasi dan faktor-faktor yang mendukung pelaksanaannya.
“Yang kami dapatkan bukan hanya tentang teknologinya, tetapi juga bagaimana sebuah inovasi dibangun dari kebutuhan masyarakat, kemudian dikelola melalui kepemimpinan, kolaborasi dan komitmen organisasi,” ujar Daniel.
Dalam sesi pemaparan dan diskusi, peserta mempelajari bagaimana kebutuhan masyarakat diidentifikasi dan dijadikan dasar pengembangan layanan. Pembahasan juga mencakup optimalisasi sumber daya, pembangunan kolaborasi, serta komitmen pimpinan dalam mengawal perubahan.
JakCare menjadi salah satu perhatian peserta karena memberikan gambaran mengenai pemanfaatan teknologi untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih mudah diakses dan terintegrasi.
Menurut Daniel, penerapan teknologi perlu diimbangi dengan kesiapan organisasi dalam mengelola perubahan. Dukungan sumber daya manusia dan kepemimpinan yang mampu beradaptasi menjadi bagian penting dalam pelaksanaan inovasi.
“Ini menjadi pembelajaran bagi kami bahwa inovasi tidak cukup hanya membuat sebuah sistem atau aplikasi. Yang paling penting adalah bagaimana inovasi tersebut benar-benar memberikan kemudahan dan manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Daniel menambahkan, pengalaman selama studi lapangan dapat menjadi referensi bagi peserta untuk mengembangkan gagasan perubahan di instansi masing-masing. Penerapannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi daerah.
“Kami berharap apa yang kami pelajari di sini bisa menjadi lesson learned yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi di daerah masing-masing,” ucapnya.
Selain pemanfaatan teknologi, studi lapangan tersebut menekankan pentingnya kolaborasi antarunit dan pemangku kepentingan dalam pengembangan pelayanan publik. Konsistensi organisasi juga diperlukan agar inovasi dapat berjalan secara berkelanjutan.
Melalui pembelajaran tersebut, peserta diharapkan dapat mengembangkan gagasan perbaikan pelayanan yang sesuai dengan tantangan di lingkungan kerja masing-masing dan memberikan manfaat bagi masyarakat.








