Jakarta, Jurnalkota.co.id
Upaya menciptakan lingkungan hunian yang bersih, sehat, dan berkelanjutan terus diperkuat di Rusunawa Daan Mogot, Jakarta. Melalui kolaborasi antara pengelola, pengurus RT/RW, dan masyarakat, kawasan hunian vertikal tersebut resmi memulai gerakan Pengelolaan Sampah Mandiri dengan menerapkan pemilahan sampah sejak dari masing-masing unit hunian, Minggu (2/8/2026).

Program tersebut menjadi langkah awal membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah, yakni memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Melalui kebiasaan tersebut, volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA) diharapkan dapat berkurang sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan.
Kesepakatan penerapan pengelolaan sampah mandiri itu merupakan hasil diskusi antara pengelola Rusunawa Daan Mogot bersama seluruh Ketua RT dan Ketua RW. Dalam pertemuan tersebut, seluruh pihak menyatakan komitmen untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih tertib, efektif, dan ramah lingkungan.
Kepala Unit Pengelola Rumah Susun (UPRS) V, Muhammad Ali, mengatakan pihaknya mendukung penuh penerapan pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah tangga.
“Kami sangat mendukung sepenuhnya pemisahan sampah organik dan anorganik sejak dari sumbernya. Ini merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan rusun yang lebih bersih dan sehat,” ujar Ali.
Sebagai bentuk dukungan terhadap program tersebut, pengelola Rusunawa Daan Mogot menyiapkan berbagai fasilitas penunjang. Salah satunya adalah pembangunan gudang pengolahan dan pemilahan sampah yang nantinya menjadi pusat pengelolaan sampah di kawasan rusunawa.
Selain itu, pengelola juga memberikan stimulan berupa ember sebagai wadah sampah organik kepada warga. Ember tersebut akan didistribusikan secara bertahap melalui masing-masing Ketua RT karena jumlahnya masih terbatas.
“Program ini dilakukan secara bertahap. Ember yang diberikan merupakan stimulan agar masyarakat mulai membiasakan memilah sampah dari rumah masing-masing,” kata Ali.
Tak hanya itu, pengelola juga menyediakan tempat pembuangan khusus botol air mineral serta menempatkan tempat sampah terpilah di sejumlah titik strategis di lingkungan Rusunawa Daan Mogot. Fasilitas tersebut diharapkan memudahkan warga menerapkan kebiasaan memilah sampah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai tindak lanjut dari komitmen bersama tersebut, sekitar 300 warga yang terdiri dari Ketua RT, Ketua RW, tokoh masyarakat, dan penghuni Rusunawa Daan Mogot mengikuti kegiatan kerja bakti bersama.
Kegiatan difokuskan pada pembuatan lubang penampungan sampah organik yang nantinya dimanfaatkan sebagai tempat pengolahan sampah menjadi kompos. Hasil pengolahan tersebut selanjutnya akan digunakan untuk mendukung penghijauan dan pemeliharaan taman di lingkungan rusunawa.
Menurut Ali, pengolahan sampah organik menjadi kompos tidak hanya mampu mengurangi volume sampah, tetapi juga memberikan nilai manfaat bagi lingkungan. Kompos yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman sehingga menciptakan siklus pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan.
Ia berharap partisipasi aktif masyarakat terus terjaga sehingga program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari.
Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga menjadi bukti bahwa pengelolaan sampah merupakan tanggung jawab bersama. Keberhasilan program tersebut sangat bergantung pada kesadaran seluruh penghuni untuk disiplin memilah sampah sejak dari rumah.
Melalui gerakan ini, Rusunawa Daan Mogot diharapkan mampu menjadi contoh kawasan hunian vertikal yang berhasil menerapkan pengelolaan sampah secara mandiri. Selain mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPA, program ini juga diharapkan mampu membangun budaya hidup bersih, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta menciptakan kawasan permukiman yang sehat, nyaman, dan berkelanjutan bagi seluruh penghuninya.
Penulis: Awal
Editor: Antoni










