www.jurnalkota.co.id
Oleh: Nada Navisya, S.Pd
Aktivis Muslimah
Tawuran remaja bukan persoalan baru di Indonesia. Fenomena ini bahkan sudah berlangsung lama dan terus berulang di berbagai daerah. Salah satu wilayah yang kerap diberitakan terkait aksi tawuran adalah Belawan, Kota Medan. Peristiwa kekerasan antar-kelompok remaja di kawasan ini seolah menjadi siklus yang sulit diputus.
Berbagai pihak telah berupaya menanganinya, mulai dari sekolah, keluarga, masyarakat, hingga aparat penegak hukum. Namun hingga kini, solusi yang benar-benar mampu menghentikan tawuran secara menyeluruh belum juga terlihat.
Padahal, dampak tawuran tidak hanya sekadar keributan antar-kelompok. Dalam banyak kasus, konflik tersebut berujung pada luka berat bahkan kematian. Baru-baru ini, seorang warga berinisial DIS (33) meninggal dunia setelah terkena mercon SOS saat terjadi tawuran di Kelurahan Bagan Deli, Kecamatan Medan Belawan, Minggu (8/2/2026).
Kasus tersebut hanyalah salah satu dari banyak peristiwa serupa yang terjadi di wilayah Medan Utara, seperti Medan Labuhan, Medan Deli, Medan Marelan, dan Medan Belawan. Dalam beberapa kasus sebelumnya, seorang remaja berusia 17 tahun berinisial F tewas akibat tawuran di Medan Deli. Sementara itu, seorang pemuda berinisial A (20) juga meninggal dunia setelah terkena panah dalam konflik antar-kelompok pemuda di Belawan.
Bahkan, tawuran yang terjadi di Jalan TM Pahlawan, Kecamatan Medan Belawan, antara kelompok Lorong Melati dan Lorong Papan, menyebabkan seorang pemuda berinisial D (24) tewas akibat tembakan yang diduga berasal dari senapan angin rakitan. Peristiwa yang lebih memprihatinkan terjadi pada awal 2026 ketika seorang balita berinisial AA (4) menjadi korban penembakan saat terjebak di tengah tawuran di Jalan Stasiun, Belawan.
Rentetan peristiwa ini menunjukkan bahwa tawuran bukan sekadar kenakalan remaja biasa. Ia telah menjadi persoalan sosial serius yang berdampak luas bagi masyarakat.
Pemerintah daerah sebenarnya telah menyampaikan berbagai langkah untuk mengatasi persoalan ini. Wali Kota Medan Rico Waas, misalnya, menegaskan pentingnya peningkatan ketenteraman dan ketertiban masyarakat melalui pengawasan yang lebih intensif serta sinergi dengan aparat penegak hukum.
Selain itu, pemerintah juga berencana mendorong peningkatan kesempatan pendidikan dan lapangan kerja bagi anak muda, termasuk melalui program Sekolah Rakyat.
Namun pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah: apakah langkah-langkah tersebut cukup untuk menyelesaikan persoalan tawuran secara mendasar?
Akar Persoalan Tawuran
Pada dasarnya, masa remaja adalah fase penting dalam pembentukan karakter. Anak-anak seharusnya menggunakan masa ini untuk belajar, mengembangkan potensi diri, serta membangun masa depan. Namun kenyataannya, sebagian remaja justru terlibat dalam tindakan kekerasan seperti tawuran.
Fenomena ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai akar masalahnya. Jika dikatakan bahwa tawuran terjadi karena banyak remaja tidak bersekolah, faktanya tidak sedikit pelaku tawuran yang masih berstatus pelajar. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan tawuran tidak hanya berkaitan dengan akses pendidikan, tetapi juga dengan kualitas pembinaan generasi.
Selain faktor pendidikan, lingkungan keluarga juga memiliki peran penting. Dalam banyak kasus, lemahnya pengawasan orang tua menjadi salah satu penyebab remaja mudah terjerumus dalam perilaku negatif. Kondisi ekonomi yang sulit sering kali memaksa kedua orang tua bekerja sehingga waktu untuk berkomunikasi dan membimbing anak menjadi terbatas.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan media sosial juga membawa tantangan tersendiri. Anak-anak dan remaja kini memiliki akses luas terhadap berbagai konten digital yang tidak semuanya bersifat edukatif. Tanpa pendampingan yang memadai, media sosial dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku remaja, termasuk mendorong tindakan agresif atau kekerasan.
Faktor lain yang tak kalah penting adalah lingkungan sosial. Sikap individualistis dalam masyarakat sering kali membuat berbagai penyimpangan perilaku remaja tidak mendapatkan perhatian serius. Ketika terjadi tawuran, masyarakat cenderung memilih diam atau hanya menjadi penonton tanpa upaya untuk mencegah atau melaporkan.
Akibatnya, tawuran terus berulang tanpa adanya efek jera yang signifikan bagi pelaku.
Pentingnya Sinergi Pembinaan Generasi
Mengatasi tawuran remaja membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Tidak cukup hanya dengan penegakan hukum atau program pendidikan semata. Dibutuhkan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan negara dalam membangun sistem pembinaan generasi yang kuat.
Keluarga memiliki peran sebagai benteng pertama dalam pembentukan karakter anak. Orang tua perlu membangun komunikasi yang baik dengan anak serta memberikan perhatian dan pengawasan yang cukup.
Di tingkat masyarakat, diperlukan kepedulian kolektif terhadap perkembangan generasi muda. Lingkungan sosial yang sehat dapat menjadi faktor penting dalam mencegah remaja terlibat dalam perilaku menyimpang.
Sementara itu, negara memiliki tanggung jawab dalam menciptakan sistem pendidikan yang tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter, moral, dan tanggung jawab sosial.
Jika ketiga unsur tersebut mampu bekerja secara sinergis, maka upaya pembinaan generasi muda akan menjadi lebih efektif. Dengan demikian, potensi anak muda dapat diarahkan pada kegiatan yang positif dan produktif, bukan pada tindakan kekerasan seperti tawuran.
Tawuran remaja tidak seharusnya dianggap sebagai persoalan yang wajar atau sekadar kenakalan masa muda. Ia adalah sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu dibenahi dalam sistem pembinaan generasi.
Karena itu, penyelesaiannya pun harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan.
Wallahu a’lam bishawab.














