Jakarta, Jurnalkota.co.id
Semangat keberagaman dan persatuan mewarnai Festival Akulturasi Kebudayaan Betawi dan Tionghoa yang digelar di Taman Pandawa, Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, Sabtu (20/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-499 Kota Jakarta sekaligus wadah mempererat hubungan antarwarga dari berbagai latar belakang budaya.
Festival yang diinisiasi tokoh masyarakat Betawi dan Tionghoa itu menghadirkan beragam pertunjukan seni budaya yang mencerminkan harmonisasi dua budaya yang telah tumbuh dan berkembang bersama selama ratusan tahun di Jakarta. Kehadiran masyarakat dari berbagai kalangan semakin menambah semarak acara yang sarat dengan nilai kebersamaan tersebut.
Tokoh masyarakat Betawi Jakarta Barat, Mujamil atau yang akrab disapa Bang Jamil, mengatakan festival ini bertujuan menjaga sekaligus melestarikan budaya Betawi dan Tionghoa sebagai bagian dari identitas Jakarta yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah ibu kota.
Menurutnya, hubungan masyarakat Betawi dan Tionghoa telah terjalin erat sejak lama dan menjadi salah satu fondasi penting dalam kehidupan sosial masyarakat Jakarta yang majemuk.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mempererat silaturahmi antara warga Betawi dan warga Tionghoa. Akulturasi budaya yang sudah terjalin selama ratusan tahun di Jakarta harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujar Bang Jamil.
Ia menilai peringatan HUT Jakarta ke-499 menjadi momentum yang tepat untuk mengenang perjalanan panjang Jakarta dari masa Batavia hingga berkembang menjadi kota metropolitan yang menjadi pusat pemerintahan, ekonomi, dan budaya Indonesia.
Sementara itu, Wali Kota Jakarta Barat Iin Mutmainnah yang hadir dalam kegiatan tersebut menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Festival Akulturasi Budaya Betawi dan Tionghoa. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan contoh nyata bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun persatuan dan kerukunan masyarakat.
Iin mengatakan Jakarta Barat merupakan wilayah yang kaya akan keberagaman budaya. Berbagai kelompok etnis hidup berdampingan dengan harmonis dan saling menghormati satu sama lain. Kondisi tersebut menjadi modal sosial yang sangat penting dalam menjaga stabilitas dan kemajuan daerah.
“Festival ini bukan hanya menjadi ajang hiburan dan pelestarian budaya, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan serta mempererat hubungan antarwarga di tengah keberagaman yang kita miliki,” kata Iin.
Menurut dia, budaya Betawi dan budaya Tionghoa memiliki banyak kesamaan nilai yang masih relevan dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. Kedua budaya sama-sama menjunjung tinggi etika, sopan santun, penghormatan kepada orang tua, serta pentingnya menjaga hubungan kekeluargaan dan silaturahmi.
“Betawi dan Tionghoa memiliki banyak kesamaan nilai. Keduanya sama-sama menjunjung tinggi etika, sopan santun, penghormatan kepada orang tua, serta pentingnya menjaga silaturahmi dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.
Selain memiliki nilai sosial yang kuat, kedua budaya juga kaya akan simbol-simbol yang mencerminkan semangat perjuangan dan harapan. Dalam budaya Betawi dikenal tradisi pencak silat yang melambangkan keberanian, ketangguhan, dan kehormatan. Sementara dalam budaya Tionghoa terdapat kesenian barongsai yang sarat makna semangat, keberuntungan, dan optimisme.
Berbagai pertunjukan seni yang ditampilkan dalam festival tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana dua budaya berbeda dapat hidup berdampingan dan saling memperkaya satu sama lain. Penampilan seni tradisional, atraksi budaya, hingga partisipasi aktif masyarakat menjadi simbol kuat harmoni yang terbangun di Jakarta.
Iin berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai sarana memperkenalkan kekayaan budaya Jakarta kepada generasi muda. Menurutnya, pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh elemen masyarakat.
Ia juga mengajak masyarakat untuk terus menjaga persatuan serta memperkuat kolaborasi dalam membangun lingkungan yang aman, nyaman, dan sejahtera.
“Dengan kolaborasi antara pemerintah, TNI, Polri, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, dan seluruh warga, kita optimistis Jakarta Barat dapat menjadi kota yang aman, nyaman, bersih, dan sejahtera,” pungkasnya.
Festival Akulturasi Budaya Betawi dan Tionghoa tersebut menjadi salah satu wujud nyata bahwa keberagaman bukanlah perbedaan yang memisahkan, melainkan kekuatan yang mampu mempererat persaudaraan dan memperkaya identitas Kota Jakarta menjelang usianya yang ke-499 tahun.
Penulis: Awal
Editor: Antoni














