Gaza Membutuhkan Lebih dari Sekadar Gencatan Senjata

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Hoki Waradhani
Mahasiswi Yogyakarta

Kondisi Gaza kembali memantik duka mendalam. Di tengah musim dingin yang menusuk, banjir menerjang tenda-tenda pengungsian yang selama ini menjadi tempat berlindung sementara bagi sebagian besar warga. Tenda-tenda yang rapuh itu robek, roboh, dan hanyut, memperparah penderitaan mereka yang telah kehilangan rumah, keluarga, dan sebagian besar harapan. Ironisnya, di saat kebutuhan tempat tinggal yang layak semakin mendesak, Israel justru membatasi masuknya material kemanusiaan seperti tenda dan hunian darurat.

Gencatan senjata yang seharusnya membuka jalan bagi pemulihan justru menghadirkan babak baru penderitaan. Dunia seakan menganggap kondisi Gaza telah stabil, padahal krisis kemanusiaan terus menganga.

Bayang-Bayang Kekerasan di Tengah Gencatan Senjata

Realitas ini menegaskan bahwa gencatan senjata bukanlah solusi instan bagi penderitaan warga Gaza. Akar persoalannya jauh lebih dalam: kekerasan sistematis yang terus mengancam keberlangsungan hidup warga Palestina.

Sejak kesepakatan gencatan senjata pada 10 Oktober 2025, setidaknya 260 warga Gaza meninggal dunia dan lebih dari 630 lainnya terluka. Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik; ia mencerminkan kekejaman yang terus terjadi meski peperangan “secara formal” dihentikan.

Peran komunitas internasional pun menjadi sorotan. Alih-alih menjadi penengah yang adil, dunia tampak membiarkan tragedi ini berlangsung tanpa tekanan yang berarti terhadap pihak yang bertanggung jawab.

Dunia Internasional Dinilai Gagal Menghentikan Derita Gaza

Dalam narasi global, Gaza kerap digambarkan berada dalam kondisi “terkendali”. Namun, narasi tersebut tidak lepas dari dominasi negara-negara besar, terutama Amerika Serikat dan sekutunya, yang memegang kendali atas isu politik kawasan.

Mereka tampil seolah peduli, memberikan bantuan kemanusiaan, namun pada saat yang sama mempertahankan dukungan terhadap kebijakan Israel. Bantuan yang diberikan lebih tampak sebagai simbol kepedulian, bukan solusi menyentuh akar masalah.

Bagi warga Gaza, pendekatan semacam ini justru dinilai melanggengkan ketidakadilan.

Di Mana Harapan untuk Gaza?

Ketika solusi solusi Barat dinilai gagal dan dunia internasional tidak menunjukkan keberpihakan jelas, pertanyaan besar pun muncul: di mana harapan bagi Gaza?

Sebagian kalangan menilai bahwa negara-negara Muslim perlu mengambil peran lebih tegas dan menawarkan pendekatan berbasis nilai-nilai Islam. Dalam pandangan ini, Gaza membutuhkan bukan hanya bantuan kemanusiaan, tetapi pembebasan dari belenggu penjajahan.

Gagasan mengenai pentingnya persatuan umat Islam, penerapan syariat secara menyeluruh, serta hadirnya kepemimpinan yang kuat menjadi salah satu perspektif yang diusulkan oleh penulis. Dalam kerangka itu, sistem pemerintahan Islam dipandang sebagai “perisai” yang mampu menghapus penjajahan dan mewujudkan keadilan.

Meneguhkan Kesadaran dan Persatuan

Upaya memperjuangkan perubahan tersebut, menurut penulis, harus disertai dakwah yang menguatkan kesadaran umat. Persatuan sesama Muslim dipandang menjadi kunci dalam mewujudkan tatanan yang lebih adil, tidak hanya bagi Gaza, tetapi bagi seluruh wilayah yang menghadapi penindasan serupa.

Hanya dengan kebersamaan dan penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh, penderitaan berkepanjangan di Gaza diyakini dapat diakhiri dan digantikan dengan harapan baru bagi kemanusiaan.**

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed