Oleh: Ni’matul Yumna
Mahasiswa Pascasarjana UNY
Awal September ini kembali menyingkap wajah rapuh sistem global. Dunia dihadapkan pada krisis tenaga kerja yang menghantam generasi muda, tragedi kemanusiaan berupa genosida yang kian brutal, serta kelalaian negara dalam melindungi rakyatnya. Tiga persoalan berbeda ini sesungguhnya berakar pada hal yang sama: kegagalan kapitalisme dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan.
Krisis Tenaga Kerja
Krisis tenaga kerja kini melanda berbagai negara besar, mulai dari Inggris, Prancis, China, hingga Amerika Serikat. Lonjakan angka pengangguran memperlihatkan rapuhnya sistem ekonomi global. Fenomena “pura-pura bekerja” atau “kerja tanpa digaji” demi sekadar dianggap berpenghasilan menambah bukti lemahnya sistem ini.
Di Indonesia, separuh angka pengangguran justru berasal dari kalangan muda yang seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan. Pemerintah merespons dengan job fair dan pembukaan jurusan vokasi. Namun, industri sendiri tengah dihantam badai pemutusan hubungan kerja (PHK). Di sisi lain, ketimpangan kekayaan kian menganga: 50 orang terkaya Indonesia menguasai kekayaan setara 50 juta rakyat miskin.
Islam sebenarnya menawarkan mekanisme konkret. Negara bertanggung jawab memastikan setiap warga memiliki pekerjaan, memberi akses pada modal, tanah, pendidikan berbasis keahlian, serta industri yang menyerap tenaga kerja. Kekayaan tidak boleh menumpuk pada segelintir orang, melainkan terdistribusi adil kepada seluruh rakyat.
Genosida di Palestina
Di Palestina, khususnya Gaza, dunia kembali menyaksikan kejahatan genosida. Serangan menyasar jurnalis dan tenaga medis, bahkan disiarkan langsung di hadapan publik dunia. Hukum internasional jelas diabaikan, sementara dunia hanya berhenti pada kecaman tanpa tindakan nyata.
Bagi umat Islam, Palestina adalah tanah yang dirampas. Pembebasan hanya mungkin terwujud dengan persatuan kaum muslim dan jihad fii sabilillah. Sayangnya, hingga kini dua miliar muslim belum mampu mendesak penguasa mereka untuk mengambil langkah konkret. Edukasi umat tentang kewajiban jihad dan pembebasan perlu terus digelorakan.
Kelalaian Negara pada Rakyat
Di dalam negeri, program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang sebagai solusi stunting justru berubah menjadi petaka. Kasus keracunan massal terjadi di berbagai daerah, mulai dari Lebong, Lampung Timur, hingga Sleman. Uji laboratorium menunjukkan faktor sanitasi sebagai penyebab, namun akar masalah sesungguhnya adalah kelalaian negara dalam menyiapkan standar operasional prosedur (SOP) dan pengawasan program.
Islam menempatkan negara sebagai pengurus rakyat (raa’in). Negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk pangan yang sehat dan aman. Dalam sistem khilafah, kesejahteraan didukung oleh sumber pemasukan negara yang sesuai syariat, bukan sekadar program populis yang rawan masalah.
Solusi Hakiki
Rangkaian persoalan ini menunjukkan benang merah yang sama: kapitalisme gagal melindungi dan menyejahterakan umat manusia. Islam dengan syariatnya dalam naungan khilafah menghadirkan solusi hakiki, menawarkan distribusi adil, perlindungan nyata, serta jalan keluar dari berbagai krisis yang menjerat dunia hari ini.**













