Lonjakan Kasus Bullying Soroti Kerapuhan Sistem Pendidikan

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Ain Mawaddah Warohmah, S.Pd.
Status : Tutor dan Aktivis Dakwah

Kasus perundungan atau bullying kembali mendapat sorotan publik setelah serangkaian peristiwa kekerasan melibatkan pelajar terjadi dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena ini tidak hanya menunjukkan bahwa praktik intimidasi antar siswa masih marak, tetapi juga mulai berkembang pada tahap yang lebih ekstrem: korban memilih melakukan tindakan balas dendam.

Salah satu kasus yang menyita perhatian terjadi pada 27 Oktober lalu di SMAN 72 Jakarta. Seorang siswa yang disebut sebagai korban bullying diduga merakit dan meledakkan sejumlah bom rakitan di area sekolah. Dua ledakan terjadi di dekat masjid saat pelaksanaan shalat Jumat dan melukai 96 pelajar. Dua bom lainnya ditemukan di Taman Baca dan Bank Sampah, sementara beberapa lainnya tidak sempat meledak.

Peristiwa berbeda terjadi di Aceh Besar pada 31 Oktober. Seorang santri yang diduga menjadi korban perundungan membakar asrama putri di lingkungan pesantren. Tidak ada korban jiwa, namun kerugian ditaksir mencapai Rp 2 miliar. Pelaku telah diamankan dan diproses sesuai Sistem Peradilan Pidana Anak karena masih di bawah umur.

Rangkaian kejadian ini memperkuat fakta bahwa bullying bukan sekadar persoalan insiden kecil di lingkungan sekolah. Dampaknya dapat meluas hingga memicu gangguan mental, penurunan prestasi, perilaku agresif, bahkan tindakan ekstrem yang membahayakan banyak pihak. Situasi ini menuntut perhatian serius seluruh elemen: sekolah, keluarga, masyarakat, dan negara.

Dalam kerangka yang lebih besar, persoalan bullying memunculkan sorotan terhadap arah pendidikan kita. Sistem pendidikan saat ini dinilai belum sepenuhnya mampu membentuk karakter peserta didik secara kuat dan berkelanjutan. Kurikulum yang dominan menekankan capaian material dan akademik dianggap kurang memberi ruang bagi pembinaan moral, spiritual, serta nilai-nilai kemanusiaan.

Konteks ini kerap dikaitkan dengan pengaruh paradigma pendidikan modern yang cenderung berorientasi pada kebutuhan pasar kerja. Sekolah diarahkan melahirkan sumber daya manusia terampil, namun kurang memperhatikan pembentukan kepribadian secara utuh. Ketimpangan antara keterampilan dan karakter kemudian membuka ruang bagi perilaku menyimpang, termasuk kekerasan antar pelajar.

Sebagian kalangan melihat bahwa pendidikan Islam menawarkan pendekatan berbeda mengintegrasikan pembinaan akhlak, spiritualitas, dan kemampuan intelektual sebagai satu kesatuan. Tujuannya melahirkan generasi berkepribadian kuat sekaligus kompeten di berbagai bidang kehidupan. Nilai-nilai tersebut diyakini dapat menjadi fondasi bagi peserta didik untuk bertindak lebih bijak dan bertanggung jawab.

Fenomena bullying yang terus meningkat, dalam pandangan penulis, tidak hanya menunjukkan persoalan individu, tetapi juga mencerminkan tantangan ideologis dalam masyarakat. Perubahan nilai sosial, meningkatnya glorifikasi popularitas, serta longgarnya standar moral turut memengaruhi perilaku remaja di lingkungan sekolah.

Karena itu, penyelesaian masalah bullying perlu menempatkan keluarga, lembaga pendidikan, dan negara sebagai unsur yang bekerja secara sistematis. Pembinaan karakter, penguatan nilai moral, serta hadirnya kebijakan yang benar-benar melindungi anak menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.

Menurut penulis, penerapan nilai-nilai Islam secara menyeluruh baik dalam keluarga, pendidikan, maupun tata kelola negara dapat menjadi solusi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang kuat, berakhlak mulia, dan terbebas dari kekerasan.

Wallahu’alam bishawab.

 

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *