Lebak, Jurnalkota.co.id
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak, Banten, mendesak Bupati Mochamad Hasbi Asyidiki dan Wakil Bupati Amir Hamzah untuk segera melakukan islah atau berdamai usai insiden yang terjadi dalam acara halalbihalal di Pendopo Rangkasbitung.
Ketua MUI Kabupaten Lebak KH Pupu Mahpudin mengatakan, kedua pemimpin daerah tersebut diharapkan dapat saling memaafkan dan kembali bersatu demi menjaga kondusivitas daerah.
“Kita berharap kedua pemimpin lokal itu segera saling memaafkan dan kembali bersatu,” kata Pupu saat dihubungi di Rangkasbitung, Selasa (31/3/2026).
Menurut dia, konflik antara kepala daerah dan wakilnya berpotensi menimbulkan preseden buruk di tengah masyarakat jika tidak segera diselesaikan.
Ia menegaskan, MUI Lebak siap memfasilitasi proses perdamaian antara kedua pihak agar ketegangan tidak berlarut-larut.
“Insyaallah, kami siap memfasilitasi islah antara Bupati Hasbi dan Wakil Bupati Amir, sehingga tidak ada lagi pertentangan dan kebencian,” ujarnya.
Pupu menambahkan, perselisihan dan permusuhan merupakan perbuatan yang tidak dibenarkan dalam ajaran agama, terlebih jika terjadi di kalangan pemimpin yang menjadi teladan masyarakat.
“Apalagi mereka adalah pemimpin. Seharusnya memberi contoh yang baik, bukan justru mempertontonkan konflik,” kata dia.
Ia mengingatkan, konflik berkepanjangan berpotensi menghambat jalannya pemerintahan dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
“Jika pemimpin saling bertentangan dalam waktu lama, maka akan sulit mencapai keberhasilan dalam membangun daerah,” tegasnya.
Insiden Halalbihalal Picu Ketegangan
Keributan antara Bupati dan Wakil Bupati Lebak itu terjadi saat acara halalbihalal yang dihadiri aparatur sipil negara (ASN) dan sejumlah undangan.
Peristiwa tersebut bermula ketika Bupati Mochamad Hasbi Asyidiki menyinggung status pribadi Wakil Bupati Amir Hamzah sebagai mantan narapidana di hadapan publik.
Pernyataan tersebut memicu ketegangan di lokasi acara, meski situasi akhirnya dapat diredam oleh sejumlah pejabat yang hadir.
Sejumlah warga pun menyayangkan insiden tersebut. Mereka menilai acara halalbihalal seharusnya menjadi momentum mempererat silaturahmi, bukan memunculkan konflik.
“Seharusnya momen halalbihalal itu untuk saling memaafkan, bukan menyampaikan hal-hal yang memicu kegaduhan,” kata Samsudin, warga Rangkasbitung.
Ia berharap kedua pemimpin daerah dapat segera menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan demi menjaga keharmonisan pemerintahan.
“Jangan sampai pemimpin kita saling bermusuhan, karena bisa berdampak pada kemajuan daerah,” ujarnya.
Wabup Amir: Tidak Etis Disampaikan di Ruang Publik
Sementara itu, Wakil Bupati Lebak Amir Hamzah mengaku kecewa atas pernyataan Bupati yang disampaikan di depan umum.
Menurut dia, hal tersebut tidak pantas disampaikan dalam forum resmi, terlebih dalam suasana halalbihalal.
“Tentu tidak etis di acara halalbihalal menyinggung persoalan pribadi,” kata Amir.
Penulis: Noma
Editor: Antoni








