Petani Badui di Lebak Rugi hingga Rp25 Juta Akibat Serangan Babi Hutan dan Monyet

Jasa Maklon Sabun

Lebak, Jurnalkota.co.id

Sejumlah petani Badui di Kabupaten Lebak, Banten, mengaku mengalami kerugian akibat serangan kawanan babi hutan dan monyet yang merusak tanaman pertanian di lahan seluas sekitar lima hektare di Blok Cicurahem, Kecamatan Gunungkencana.

Salah seorang petani Badui, Sarja (50), mengatakan kerusakan tanaman menyebabkan hasil panen menurun drastis. Padahal, dari lahan tersebut ia memperkirakan dapat memperoleh pendapatan sekitar Rp25 juta.

«”Kami seharusnya bisa mendapatkan pendapatan sekitar Rp25 juta dari hasil pertanian ladang. Namun, sekarang tanaman banyak yang rusak akibat serangan babi hutan dan monyet,” kata Sarja saat dihubungi, Kamis (2/7/2026).»

Menurut Sarja, kawanan monyet yang berjumlah sekitar 20 hingga 30 ekor kerap datang pada siang hingga sore hari, sekitar pukul 12.00 WIB hingga 16.00 WIB. Satwa tersebut merusak berbagai tanaman, seperti pisang, singkong, ubi, jagung, cabai, dan tanaman pangan lainnya.

Sementara itu, babi hutan biasanya menyerang pada dini hari, sekitar pukul 02.00 WIB hingga 03.30 WIB. Kedua jenis satwa tersebut datang secara berkelompok sehingga membuat para petani kesulitan menghalau.

“Kami tidak berani mengusir karena khawatir diserang balik oleh kawanan satwa tersebut,” ujarnya.

Sarja menyebutkan, sedikitnya lima petani Badui terdampak serangan satwa liar di kawasan tersebut. Bahkan, sebagian petani terpaksa memanen lebih awal untuk menghindari tanaman habis dimakan.

Ia mengatakan, serangan babi hutan dan monyet telah berlangsung selama sekitar dua bulan terakhir dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi petani.

Petani lainnya, Karna (55), mengaku mengalami kondisi serupa. Tanaman pisang, ubi, pepaya, kacang tanah, dan singkong miliknya banyak yang rusak sebelum sempat dipanen.

Menurut Karna, meningkatnya serangan satwa liar diduga berkaitan dengan berkurangnya habitat alami akibat alih fungsi lahan. Ia menilai aktivitas pertambangan batu serta pembangunan permukiman dan infrastruktur telah mengurangi kawasan hutan yang menjadi sumber pakan satwa.

“Kami menduga satwa itu kelaparan karena habitatnya di kawasan hutan dan sekitar aliran sungai semakin berkurang, sehingga masuk ke lahan pertanian warga untuk mencari makanan,” katanya.

 

Penulis: Noma
Editor: Antoni

 

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed