Rustam: Deteksi Dini dan Pengobatan Tuntas Kunci Pengendalian Malaria di Senggarang

Jasa Maklon Sabun

Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Tanjungpinang terus memperkuat langkah pengendalian malaria menyusul ditemukannya puluhan kasus penyakit tersebut di wilayah Kelurahan Senggarang dan Kampung Bugis.

Sebagai upaya menekan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles tersebut, DKP2KB membuka posko pemeriksaan kesehatan serta meningkatkan pengawasan dan pelacakan kasus di sejumlah wilayah yang teridentifikasi sebagai lokasi penyebaran malaria.

Kepala DKP2KB Kota Tanjungpinang, Rustam, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus sehingga penanganan dapat dilakukan sedini mungkin. Wilayah yang menjadi fokus pengawasan saat ini meliputi RW 4, RW 6, dan RW 7 Kelurahan Senggarang.

Berdasarkan data hingga 24 April 2026, tercatat sebanyak 39 kasus malaria ditemukan di Kota Tanjungpinang. Dari jumlah tersebut, empat kasus ditemukan di wilayah Kampung Bugis, sedangkan 35 kasus lainnya berada di Kelurahan Senggarang.

“Untuk mempercepat deteksi dini, kami telah membuka posko pemeriksaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Kami berharap seluruh warga, baik yang mengalami gejala maupun tidak bergejala, dapat memanfaatkan layanan pemeriksaan yang telah disediakan,” ujar Rustam, Senin (1/6/2026).

Menurutnya, pemeriksaan kesehatan secara dini menjadi salah satu strategi penting dalam pengendalian malaria. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, penderita dapat segera mendapatkan pengobatan sehingga risiko penularan kepada orang lain dapat ditekan.

Rustam menjelaskan bahwa salah satu tantangan dalam penanganan malaria adalah masih adanya penderita yang tidak menyadari dirinya terinfeksi karena gejala yang muncul sering kali menyerupai penyakit lain, seperti demam, menggigil, sakit kepala, dan tubuh lemas.

Karena itu, DKP2KB terus mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di wilayah terdampak, agar tidak ragu melakukan pemeriksaan meskipun belum merasakan gejala yang berat.

“Penemuan kasus secara dini sangat penting. Semakin cepat penderita diketahui dan diobati, semakin kecil peluang penyakit ini menyebar ke lingkungan sekitar,” katanya.

Selain membuka posko pemeriksaan, petugas kesehatan juga terus melakukan penelusuran kasus atau tracing secara aktif maupun pasif. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan adanya penderita lain yang belum terdeteksi.

Menurut Rustam, jumlah kasus malaria yang ditemukan masih berpotensi bertambah seiring intensifnya pemeriksaan dan pelacakan yang dilakukan di lapangan.

“Kami masih terus melakukan pencarian kasus secara aktif dan pasif. Karena itu, kemungkinan masih ada penambahan kasus seiring pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas kesehatan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa setiap penderita malaria wajib menjalani pengobatan hingga tuntas sesuai standar yang ditetapkan Kementerian Kesehatan. Pengobatan dilakukan selama 14 hari menggunakan kombinasi obat Dihidroartemisinin-Piperaquine (DHP) dan Primakuin yang disediakan pemerintah.

Menurutnya, kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat sangat menentukan keberhasilan pengobatan sekaligus mencegah munculnya kembali infeksi malaria.

“Jika mengalami malaria, segera minum obat selama 14 hari tanpa putus. Ada dua jenis obat yang harus dikonsumsi sesuai petunjuk tenaga kesehatan, yakni DHP dan Primakuin,” jelas Rustam.

Ia menambahkan, penderita yang tidak menjalani pengobatan secara tuntas berisiko mengalami kekambuhan dan berpotensi menjadi sumber penularan bagi anggota keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.

Selain fokus pada penemuan kasus dan pengobatan penderita, DKP2KB juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai langkah pencegahan jangka panjang.

Masyarakat diminta rutin membersihkan lingkungan, menghilangkan genangan air, serta menjaga area sekitar rumah agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk pembawa parasit malaria.

“Lingkungan yang bersih merupakan salah satu faktor penting dalam pencegahan malaria. Kami mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan agar tidak menjadi habitat nyamuk Anopheles,” kata Rustam.

DKP2KB berharap kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat mempercepat pengendalian malaria di Kota Tanjungpinang. Dengan deteksi dini, pengobatan yang tuntas, serta kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, penyebaran malaria di wilayah Senggarang dan sekitarnya diharapkan dapat segera ditekan.

Pemerintah Kota Tanjungpinang juga terus memantau perkembangan situasi di lapangan guna memastikan seluruh langkah penanganan berjalan optimal dan masyarakat mendapatkan layanan kesehatan yang dibutuhkan.

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *