Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas I Tanjungpinang menerima kunjungan silaturahmi pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Tanjungpinang, Selasa (20/1/2026). Kunjungan ini menjadi langkah awal memperkuat sinergi dalam menjunjung nilai-nilai adat dan kearifan lokal Melayu di lingkungan pemasyarakatan.
Rombongan LAM Kota Tanjungpinang dipimpin langsung Ketua LAM Juramadi Esram dan disambut jajaran pejabat struktural Rutan Kelas I Tanjungpinang. Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab, sarat dialog, serta dilandasi semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap pelestarian budaya Melayu.
Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas rencana penguatan identitas lokal di lingkungan rutan, salah satunya melalui penggantian nama-nama paviliun hunian warga binaan. Penamaan baru nantinya akan mengadopsi istilah yang mencerminkan adat, budaya, serta filosofi Melayu Kepulauan Riau.
Ketua LAM Kota Tanjungpinang, Juramadi Esram, menilai langkah tersebut sebagai upaya strategis dalam menanamkan nilai-nilai luhur Melayu kepada warga binaan.
“Adat Melayu mengajarkan adab, budi pekerti, dan tanggung jawab moral. Nilai-nilai ini sangat relevan diterapkan dalam pembinaan warga binaan agar mereka memiliki kesadaran diri, jati diri, dan sikap yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat,” ujar Juramadi.
Menurut Juramadi, kehadiran unsur budaya lokal di lingkungan pemasyarakatan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga memiliki makna edukatif dan pembentukan karakter. Oleh karena itu, LAM siap mendukung rencana rutan dalam mengintegrasikan nilai adat Melayu ke dalam program pembinaan.
Selain bersilaturahmi, pengurus LAM Kota Tanjungpinang diajak meninjau langsung sejumlah paviliun hunian warga binaan, di antaranya Blok Bintan dan Blok Penyengat. Dalam kesempatan tersebut, rombongan berdialog mengenai kondisi hunian serta aktivitas keseharian warga binaan.
Juramadi menambahkan, penerapan nilai adat Melayu dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sarana pembinaan sosial yang efektif. Nilai kebersamaan, saling menghormati, dan tanggung jawab dinilai sejalan dengan prinsip adat Melayu yang menjunjung tinggi adab dan etika.
“Kami berharap rutan tidak hanya menjadi tempat pembinaan hukum, tetapi juga ruang pembinaan budaya dan karakter. Dengan pendekatan ini, warga binaan dapat lebih mudah memahami nilai-nilai kebaikan yang bersumber dari budaya sendiri,” katanya.
Rombongan LAM juga meninjau sumur tua peninggalan masa kolonial Belanda yang berada di area Rutan Kelas I Tanjungpinang. Keberadaan sumur tersebut menjadi salah satu bukti sejarah yang masih terjaga hingga kini dan memiliki nilai edukatif bagi warga binaan maupun masyarakat.
Melalui kunjungan ini, Rutan Kelas I Tanjungpinang dan LAM Kota Tanjungpinang sepakat membuka ruang kerja sama berkelanjutan, baik dalam bentuk pendampingan budaya, edukasi adat, maupun penguatan kearifan lokal Melayu dalam pembinaan warga binaan.
Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkaya pendekatan pembinaan yang lebih humanis dan kontekstual, sekaligus mendukung pembentukan warga binaan yang berkarakter, beretika, dan memiliki kesadaran jati diri budaya saat kembali ke tengah masyarakat.














