www.jurnalkota.co.id
Oleh: Moura Cesari Millennia, S.Psi.
Mahasiswa Magister Psikologi, Yogyakarta
Generasi Z kerap dikenal sebagai generasi yang tumbuh bersama teknologi, terbuka terhadap perubahan, dan berani menyampaikan pendapat. Namun, di balik karakter tersebut, tersimpan persoalan yang tidak selalu terlihat. Banyak anak muda saat ini hidup di tengah tekanan psikologis, sosial, dan ekonomi yang semakin kompleks.
Survei Jakpat pada 2025 menunjukkan sekitar 60 persen Generasi Z di Indonesia mengaku cemas terhadap masa depan. Kekhawatiran itu didominasi persoalan karier, kondisi ekonomi, dan ketidakpastian global. Selain itu, 57 persen responden mengaku mengalami tekanan finansial, sedangkan 42 persen lainnya merasakan tingginya ekspektasi sosial.
Fenomena tersebut menggambarkan bahwa kecemasan telah menjadi bagian dari keseharian banyak anak muda. Perkembangan media sosial yang sangat pesat turut memperkuat budaya perbandingan sosial. Kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar gawai sering kali menjadi standar yang sulit dicapai, sehingga memunculkan rasa tidak cukup terhadap diri sendiri.
Di sisi lain, tekanan akademik, persaingan kerja, persoalan ekonomi, hingga ketidakpastian global semakin memperberat beban generasi muda. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena di berbagai negara. Krisis ekonomi, konflik internasional, kerusakan lingkungan, dan perubahan sosial yang berlangsung begitu cepat membuat banyak anak muda memandang masa depan dengan rasa cemas.
Bagi sebagian Generasi Z, impian memperoleh pekerjaan yang layak, kehidupan yang stabil, dan masa depan yang sejahtera terasa semakin sulit diwujudkan. Mereka tumbuh di tengah berbagai krisis yang berlangsung secara bersamaan, mulai dari krisis ekonomi, kesehatan mental, lingkungan, hingga krisis makna hidup.
Tekanan tersebut semakin besar ketika media sosial tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, melainkan ruang yang memunculkan kecemasan, rasa rendah diri, dan dorongan untuk selalu terlihat sempurna. Pada saat yang sama, Generasi Z juga kerap menerima stigma sebagai generasi yang dianggap lemah, terlalu sensitif, atau tidak tahan menghadapi tantangan hidup.
Padahal, mereka tumbuh dalam situasi yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Data Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan satu dari tiga remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Bahkan sekitar 2,45 juta remaja mengalami gangguan kejiwaan, dengan kecemasan menjadi persoalan yang paling dominan. Ironisnya, hanya sebagian kecil yang memperoleh layanan pendampingan atau konseling secara memadai.
Meski demikian, kecemasan tidak selalu identik dengan kelemahan. Dalam pandangan penulis, kecemasan justru dapat menjadi tanda bahwa Generasi Z memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Munculnya sikap kritis, keberanian mempertanyakan sistem yang dianggap tidak lagi mampu menjawab tantangan zaman, serta meningkatnya kepedulian terhadap isu sosial menunjukkan adanya potensi besar untuk melahirkan perubahan. Mereka semakin berani menyuarakan ketidakadilan dan mencari alternatif yang dinilai mampu menghadirkan kehidupan yang lebih baik.
Dalam konteks tersebut, resistensi yang muncul dapat dimaknai sebagai energi perubahan, bukan sekadar bentuk penolakan. Generasi muda memiliki peluang menjadi motor pembaruan apabila energi tersebut diarahkan pada solusi yang konstruktif.
Dalam perspektif penulis, Islam menawarkan cara pandang yang tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga memberikan pedoman dalam mengelola kehidupan bermasyarakat. Islam dipandang sebagai sistem kehidupan yang mampu menghadirkan keadilan, ketenangan, dan kesejahteraan melalui aturan yang bersumber dari wahyu.
Penulis menilai sejarah peradaban Islam pada masa Daulah Abbasiyah menjadi salah satu contoh bagaimana generasi muda mampu menjadi penggerak kemajuan. Pada masa itu, pemuda berkontribusi dalam berbagai bidang, seperti ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, ekonomi, hingga pemerintahan. Menurut penulis, hal tersebut tidak terlepas dari kuatnya karakter dan identitas keislaman yang mereka miliki.
Dalam pandangan penulis, negara juga memiliki tanggung jawab untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat, menyediakan pendidikan yang berkualitas, menjaga keamanan, serta menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan generasi muda.
Karena itu, Generasi Z tidak semestinya dipandang hanya sebagai korban dari berbagai krisis yang terjadi. Mereka memiliki potensi menjadi agen perubahan yang mampu menentukan arah masa depan bangsa.
Pada akhirnya, masa depan yang lebih baik tidak akan terwujud hanya melalui harapan. Dibutuhkan generasi yang memiliki visi, keberanian, integritas, dan komitmen untuk menghadirkan perubahan yang membawa manfaat bagi masyarakat. Dalam pandangan penulis, nilai-nilai Islam dapat menjadi landasan bagi Generasi Z untuk membangun peradaban yang lebih adil, bermartabat, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.**










