www.jurnalkota.co.id
Oleh: Dina Maryani
Aktivis Dakwah
Tempe merupakan salah satu sumber protein yang terjangkau bagi masyarakat Indonesia. Namun, di balik perannya sebagai pangan rakyat, keberlangsungan usaha para pengrajin tempe kini menghadapi tantangan yang tidak ringan. Kenaikan harga kedelai impor dalam beberapa waktu terakhir telah menambah tekanan terhadap pelaku usaha kecil yang selama ini menjadi tulang punggung produksi tempe nasional.
Mengutip Kompas.id (26/5/2026), gejolak geopolitik global turut mendorong kenaikan harga kedelai impor. Kondisi tersebut berdampak langsung pada para pengrajin tempe di berbagai daerah, termasuk di Kota Malang. Mereka harus menghadapi peningkatan biaya produksi di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Persoalan tidak berhenti pada kenaikan harga kedelai. Biaya produksi juga bertambah akibat naiknya harga bahan pendukung, termasuk plastik kemasan. Akibatnya, para pengrajin berada dalam posisi yang sulit. Jika harga jual dinaikkan, mereka khawatir konsumen beralih atau mengurangi pembelian. Namun, jika harga dipertahankan, keuntungan semakin menipis dan usaha terancam merugi.
Untuk bertahan, sebagian pengrajin memilih strategi yang dikenal masyarakat sebagai shrinkflation, yakni mengecilkan ukuran produk tanpa mengubah harga jual. Langkah ini menjadi pilihan terakhir agar usaha tetap berjalan meski margin keuntungan terus menyusut.
Ketergantungan Impor
Kondisi yang dialami pengrajin tempe tidak dapat dilepaskan dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap kedelai impor. Selama bertahun-tahun, kebutuhan kedelai nasional sebagian besar dipenuhi dari luar negeri. Akibatnya, setiap kali terjadi gejolak harga global atau pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya produksi para pengrajin ikut terdampak.
Di sisi lain, kedelai lokal belum mampu menjadi penopang utama kebutuhan industri tempe nasional. Berbagai faktor, mulai dari produktivitas hingga daya saing harga, membuat kedelai impor masih menjadi pilihan utama di pasar.
Ketergantungan tersebut menunjukkan bahwa sektor pangan nasional masih menghadapi tantangan dalam mewujudkan kemandirian bahan baku. Ketika pasokan dan harga sangat dipengaruhi kondisi global, pelaku usaha kecil menjadi kelompok yang paling rentan merasakan dampaknya.
Perspektif Sistem Ekonomi
Menurut pandangan penulis, persoalan yang berulang ini tidak hanya berkaitan dengan kenaikan harga komoditas, tetapi juga menyangkut arah kebijakan ekonomi yang diterapkan. Dalam sistem ekonomi kapitalis, negara dinilai lebih berperan sebagai regulator, sementara mekanisme pasar memiliki pengaruh yang sangat besar dalam menentukan arah produksi dan distribusi pangan.
Akibatnya, ketika terjadi gejolak global, negara dinilai belum mampu sepenuhnya melindungi pelaku usaha kecil dari tekanan ekonomi yang muncul. Kenaikan harga, inflasi, dan pelemahan nilai tukar menjadi faktor yang secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat dan keberlangsungan usaha rakyat.
Penulis berpandangan bahwa kondisi tersebut menunjukkan perlunya kebijakan yang lebih kuat dalam membangun kemandirian pangan nasional, termasuk melalui penguatan produksi kedelai dalam negeri agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi.
Solusi dalam Perspektif Islam
Dalam pandangan ekonomi Islam, negara memiliki tanggung jawab sebagai raa’in atau pengurus rakyat. Negara tidak hanya berfungsi mengatur, tetapi juga memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi serta melindungi pelaku ekonomi dari berbagai bentuk kesulitan yang dapat mengancam keberlangsungan hidup mereka.
Ekonomi Islam menempatkan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat sebagai prioritas utama. Dalam konteks pertanian, negara didorong untuk mengoptimalkan pengelolaan lahan, meningkatkan produksi komoditas strategis, serta mendukung petani dan pelaku usaha agar mampu mandiri.
Menurut penulis, penerapan prinsip-prinsip ekonomi Islam diyakini dapat menjadi alternatif dalam membangun sistem ekonomi yang lebih berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan kemandirian pangan nasional. Dengan demikian, petani maupun pengrajin tempe tidak lagi berada dalam posisi rentan ketika terjadi gejolak ekonomi global.
Pada akhirnya, persoalan yang dihadapi pengrajin tempe bukan sekadar soal naiknya harga kedelai, tetapi juga menyangkut bagaimana sebuah negara membangun ketahanan pangan dan melindungi pelaku usaha rakyat. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, kebijakan yang berpihak kepada kemandirian dan kesejahteraan masyarakat menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.
Wallahu a’lam bishawab.














