www.jurnalkota.co.id
Oleh: Selvi Safitri Mahasiswa Sastra Jepang
Ironi yang mencengangkan, fenomena anak membunuh orang tua kandung dan neneknya
kini kembali mencuat dan menjadi perhatian serius. Salah satu kasus terbaru, sebagaimana yang
diberitakan oleh Kompas ( 2 Desember 2024 ), adalah ditemukannya anak yang membunuh ayah
dan neneknya saat tertidur dirumahnya, sementara ibunya melarikan diri, meski kondisinya kritis, serta diserang berkali-kali oleh si anak.
Menurut hasil penyelidikan polisi, pelaku adalah anak kandung dari korban yang masih berusia 14 tahun. Pelaku menusuk ayah, nenek dan ibunya sendiri menggunakan sebilah pisau.
Disebabkan depresi dan sakit hati kepada orang tua yang menekan anaknya untuk terus belajar
supaya menjadi siswa yang pintar dan harus masuk sekolah negeri. Pasalnya pelaku dikenal
sebagai anak pendiam, penurut, dan ramah kepada tetangga.
Selain itu pihak sekolah juga
memberikan keterangan bahwa pelaku dikenal pintar dan tidak menunjukkan perbuatan negative
dan gejala yanga aneh selama disekolah.
Kasus serupa terjadi di beberapa bulan sebelumnya, Tribun Lampung (13-6-2024)
memberitakan, SPA (19), warga Kabupaten Pesisrir Barat, Lampung, melakukan penganiayaan
terhadap ayah kandungnya yang menderita strok. Korban dianiaya hingga terkapar dengan
kondisi penuh darah dan tidak sadarkan diri. Pelaku melakukan aksinya karena tersulut emosi
saat diminta korban untuk mengantarnya ke toilet. Setelah sempat dirawat inap, keesokan harinya
korban menghembuskan nafas terakhirnya. Kasus pembunuhan anak terhadap orang tua terus terjadi dengan tingkat kebengisan yang mengerikan. Munculnya perilaku sadis dan bengis kepada generasi tidak terjadi secara tiba-tiba.
Banyak faktor yang mempengaruhi generasi hari ini hingga berperilaku tidak manusiawi dan
kehilangan hati nurani serta akal sehatnya. Di antara faktor tersebut ialah :
Pertama, pola asuh keluarga. Hari ini pola asuh keluarga dibangun dengan paradigme
sekuler kapitalisme yang membuat visi misi keluarga bertakwa semakin mengikis. Orang tua
hanya memenuhi kebutuhan materi anak tanpa diimbangi pendidikan dan pemahaman islam dari kedua orang tuanya. Kerap kali orang tua terjebak pada ukuran keberhasilan yang sempit, seperti
nilai akademik tinggi, prestasi sekolah, dan berbagai penghargaan. Alhasil, orang tua memaksakan anak untuk belajar lebih banyak, bahkan dengan
mengorbankan waktu istirahat mereka. Akibatnya anak bisa merasa tertekan, frustasi, dan
bahkan mengalami setres dan depresi yang dapat mengganggu mentalnya. Visi meraih pendidikan tertinggi dengan nilai terbaik tidak salah, tetapi harus diimbangi dengan kemampuan
anak dalam menyerap ilmu. Di sisi lain, orang tua juga mengutamakan penanaman akidah islam
kepada anak sehingga apapun yang mereka lakukan memang karena kesadarannya sebagai
hamba Allah SWT. Mereka menjalankan hak dan kewajibannaya bukan karena dipaksa atau
dibawah tekanan ambisi orang tua yang berlebihan.
Pendidikan keluarga memang memiliki peran vital dalam melahirkan generasi
berkualitas. Bagaimanapun, penerapan sistem kapitalisme memberi dampak dan pengaruh pada pendidikan hari ini. Anak terpenuhi kebutuhannya, tetapi minim pemahaman ilmu agamanya. (red)













